{blog} novanovili.com
{blog} novanovili.com
  • Home
  • DISCLOSURE
  • ABOUT ME
  • LIFESTYLE
  • FEMALE
    • Kesehatan
    • Kecantikan
    • Parenting
    • Relationship

    Deraian awan di ujung tahun.
    Menghanyutkan ku dalam buaian asa
    Menjatuhkan mu dalam genggaman takdirku

    Lihatlah.
    Begitu banyak
    butir - butir hujan yang siap mengukir.
    mengukir cerita tentang cinta 
    Cerita tentang asa.

    Lembar lembar kehidupan telah terhampar.
    Untuk kita torehkan cerita baru tentang kita

    Haru biru kebahagiaan.
    Dan segala kisah
    Akan kita arungi bersama
    Dalam lingkup takdir kita.

    ___

    By: Novili
    Kisah dibawah ini saya ambil dari sebuah situs kisah ini sangat menyentuh.. dan sejujurnya sangat menyentil kita... kita begitu sering berdo'a kepada Allah meminta apa-apa yang kita inginkan... dan akan merasa sedih dan putus asa ketika do'a kita tidak di kabulkan Allah, padahal Allah maha tahu apa-apa yang kita butuhkan.. dan Allah menggiring kita kearah yang kita butuhkan bukan kepada yang kita inginkan.... karena apa yang kita inginkan belum tentu membawa kebaikan....



    Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.

    Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe , dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan- ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk akan, dan modal membeli kacang, yang akan dia olah kembali menjadi tempe .

    Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe . Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..."

    Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe . Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.

    Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe . Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe . Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."
    Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe . Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya. Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya. Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe !" batinnya.

    Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, aitmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

    Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar...merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...

    Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya??" Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ..."
    Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe ..." "Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah! " pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?" "Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi,saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Ohh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"

    Pembaca, ini kisah yang biasa bukan? Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan "memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna. Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yg serupa.
    Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yg Allah SWT takdirkan.

    "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui" (QS. Al Baqarah 216)
    Bumi tak henti dalam putaran
    Matahari dan bulan datang bergantian
    Sebelas bulan berada dalam penantian
    Merindukan Ramadhan yang penuh persahabatan

    Kini Kerinduan telah terobatkan
    Kegembiraan hadir menyambut Ramadhan
    Uluran tangan saling memaafkan
    Dihalau jauh rasa permusuhan


    Jejak-jejak iman membasahi hati tiap insan
    Debar Ketaqwaan-pun dibangkitkan
    Sungguhlah bulan penuh kemuliaan
    Beradu banyak berbuat kebaikan


    Hari-hari diukir penuh senyuman
    Walau dahaga lapar dirasakan
    Tunduk Ibadah penuh kekhusukan
    Merayu Tuhan harapkan hidup penuh keberkahan

    Andai sajalah semua bulan bernyawa Ramadhan
    Kedengkian dan dendam dihapuskan
    Cinta dan sayang meliputi hati tiap insan
    Hidup pastilah beriring kedamaian
    Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ( Albaqarah : 183)

    Marhaban ya ramadhan...selamat datang bulan suci lagi penuh keberkahan..

    Sebentar lagi kita akan memasuki sebuah bulan..yg mana setiap orang muslim menanti kehadirannya...kenapa begitu..? Karena di bulan itu penuh dengan kemuliaan dan keberkahan setiap amal ibadah yg di lakukan dengan ikhlas,insyaAllah akan berbalas dengan kebaikan yg di lipat gandakan..

    Yup! Bulan apa lagi kalau bukan bulan ramadhan, dimana pada bulan ini setiap muslim di wajibkan untuk berpuasa,dan menjaga diri dari segala sesuatu yg membatalkan puasa maupun yg dapat merusak pahala puasa..dan dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah kepada Allah swt.
    Puasa ramadhan tak hanya sekedar menjalankan kewajiban..tetapi juga sebagai wadah untuk kita melatih dan mendisiplinkan diri dalam melaksanakan ajaran agama dalam rangka meningkatkan Keimanan dan ketaqwaan kita..serta sebagai alat charger keimanan kita yg kemungkinan sudah low..karena banyak terpakai urusan dunia..biasanya nih..sebulan dua bulan setelah ramadhan berlalu ibadah-ibadah sunat masih rajin kita lakukan..tapi seiring dengan kesibukan..sedikit demi sedikit berkurang..ibarat ponsel..kita juga perlu di charger agar keimanan kita tetap bertahan jangan sampai padam..

    Begitu juga dengan kebersihan hati , ramadhan itu ibarat pemutih hati kita yg mungkin disana telah bertumpuk noda-noda hitam..ntah berupa kedengkian..dendam..kejengkelan..dll.Maka dari itu sebelum memasuki bulan puasa kita dianjurkan untuk saling memaafkan..membersihkan hati terjalin rasa saling menyayangi..agar puasa yg kita jalankan tidak dikotori oleh sesuatu yg tidak diridhoi Allah

    :-) Sebenarnya..kita yg menyambut kehadiran bulan penuh ampunan dan keberkahan ini..atau justru sebenarnya kita yg disambut untuk memasukinya..karena kita dijamu dengan segala kelebihan, kemuliaan dan kenikmatan Ramadhan..
    ..apa pun itu, yg penting di bulan ini kita mengharapkan agar Allah memberikan kesehatan dan keimanan yg kuat pada kita agar kita dapat menjalankan ibadah dengan baik dan total,amin...

    SELAMAT MELAKSANAKAN IBADAH PUASA 1430 H
    MOHON MAAF LAHIR BATIN..

    Denting waktu mengirim terang ke tepi malam..
    Singgah sebentar di ujung mega..
    Disambut senyum lembayung jingga..
    Indahnya cakrawala takjubkan hati memukau mata..
    Bagai getar cinta menyusup di sukma..
    Lupakan penat lelahnya raga..
    Sangatlah ingin cintaku indah bak semburat jinggga..
    Namun taklah ingin cintaku singkat bagai berada dipelupuk senja..
    Indah merona didepan mata..
    Namun sekejap hilang dirampas gulita..
    Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

    ABOUT ME

    Hai, saya Nova , seorang ibu, blogger, dan freelance digital yang senang berbagi cerita melalui tulisan. Di blog ini, saya menulis tentang lifestyle, dunia perempuan, kesehatan, serta berbagai informasi menarik lainnya. Semoga setiap artikel yang Anda temukan di sini menjadi teman membaca yang menyenangkan. Terima kasih sudah berkunjung dan menjadi bagian dari perjalanan blog ini. Jika tertarik untuk bekerja sama, silakan cek halaman Disclosure

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • ISTRI MENULIS KEBURUKAN SUAMI DI MEDIA SOSIAL
    • GURUKU PAHLAWANKU, PAHLAWANMU DAN PAHLAWAN KITA SEMUA
    • Review: Wardah Exclusive Matte Lip Cream 12 Plump It Up
    • √SAKIT MAAG MEMAKSAKU UNTUK ENDOSKOPI
    • Makan Nanas dan Durian menjelang HPL, berani?

    Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates