Guru ku pahlawanku, tak terlalu berlebihan memang
jika kita mengatakan guru seorang pahlawan bagi anak didiknya. Karena seorang
guru lah membuat kita bisa membaca ,menulis, bahkan mengarang suatu cerita, memahami
suatu masalah, bahkan mencari solusinya dan mengajarkan aneka ragam ilmu
pengetahuan. Tak hanya itu gurupun dikatakan sebagai orang tua kedua kita,
karena pada jam-jam sekolah gurulah yang memantau, menasehati, dan medidik dan
membina kita. Orang tua siswa pun merasa sangat terbantu, karena disaat mereka
sibuk mencari nafkah, ada guru yang menggantikan posisi mereka untuk mendidik anak-anak .
Menjadi Guru bukanlah hal yang mudah, karena seorang guru adalah contoh dan tauladan yang
baik bagi anak didiknya. Jadi, seorang guru harus memiliki sifat yang
penyayang, santun dan lemah lembut tapi tegas, agar ketika dia menyampaikan
kebaikan kepada muridnya tidak seperti menyampaikan sebuah lelucon, tapi
nasehat yang merupakan gambaran dirinya. Kita sering mendengar pribahasa “Guru
Kencing berdiri, Murid Kencing berlari”, pribahasa ini bukanlah sekedar kata
tanpa makna, ini menunjukkan bahwa guru adalah pedoman bagi murid, jika seorang
murid melihat guru kencing berdiri akan timbul pemikiran “alah…pak guru saja
berbuat seperti itu, kita buat yang lebih ekstrim lagi” . Nah jika seorang guru
memberikan contoh yang baik tentu murid juga akan baik, apalagi akhir-akhir ini banyak sekali prilaku-prilaku tak pantas guru terhadap murid/siswa.
Orang
melakukan sesuatu itu banyak dari apa yang
dilihatnya bukan dari apa yang didengar. Jika seorang guru hanya bisa
menasehati melarang ini itu, tapi dia sendiri tidak melakukannya akan
menjadi
cibiran bagi anak didiknya. Contohnya saja seorang guru yang mengajar
sambil merokok ( sepertinya
masih banyak guru yang seperti ini), mungkin dia tidak mengatakan
“anak-anak
marilah kita merokok, merokok itu baik..dst”. tapi secara tidak langsung
dia
mengajarkan anak didiknya untuk merokok,
tak salah jika ada anak-anak yang sembunyi-sembunyi merokok di toilet
sekolah
pada jam-jam istirahat. Atau seorang guru yang menegaskan agar anak-anak
nya
untuk disiplin, datang sekolah tepat waktu dll, tapi gurunya paling
sering
telat masuk kelas dibanding tepat waktu.
 |
Ada yang mengatakan Menjadi guru itu membosankan,
mereka mesti bekerja setiap hari , mengajarkan hal yang sama tiap tahunnya.
Coba bayangkan dulu ketika orang tua kita bersekolah dia yang menjadi gurunya,
kemuadian kita, anak kita, mereka tetap mengajar di kelas dan sekolah yang
sama. Tapi menurutku itulah nilai plusnya seorang guru keikhlasannya tak
terukur oleh waktu bayangkan satu keluarga dia yang mengajar, memang kalau di
dengar agak lucu tapi itulah kenyataan ikhlasnya seorang guru, pantas
sekali jika seorang guru dikatakan
pahlawan.
Seorang guru
yang pernah bercerita “ Aduh…sekarang aku mengajar cucu ku, ada murid
yang memanggil ku nenek” katanya sambil tertawa. Bagaimana tidak dulu Ibu nya
si murid dia yang mengajar ketika SMA, dan setelah selang sekian tahun simurid
telah berkeluarga dan memiliki anak, ketika anak sudah SD bertemulah dengan
gurunya kembali, dan dia mengatakan “ini adalah ibu gurunya Mama ketika SMA ayo
salam sama nenek”. Dan ketika si anak udah lanjut sekolah tingkat SMA bertemu
kembali dengan guru yang sama dengan guru yang mengajar mamanya, si murid pun
jadi kagok kadang manggil bu guru kadang manggil nenek. Akhirnya di sepakati
kalau di sekolah manggil bu guru tapi kalau lingkuangan luar sekolah manggil
nenek. (Ha ha…, ada-ada saja ya..?)
Jadi
menurutku seorang guru sangat pantas dikatakan
seorang Pahlawan, pahlawanku, pahlawan
mu , pahlawan kita semua. Kita sangat bersyukur pemerintah sekarang
sangat
peduli dengan kesjahteraan guru, gaji guru Pegawai Negri Sipil tak lagi
bisa dikatakan murah. Jika
ada yang bilang menjadi guru PNS itu hanya mengejar gaji saja ,karena
sekarang gaji guru PNS mahal, tapi menurut saya tak semua guru yang
seperti itu buktinya ada guru yang
ikhlas dengan gaji honor yang tak seberapa dan tinggal daerah terpencil
tetap mendidik
muridnya dengan disiplin dan ikhlas.
Ditengah majunya ilmu pengetahuan dan tekhnologi
saya berharap guru lebih mampu membina anak didiknya, lebih bersahaja, dan
terhormat. Menjadi seorang guru harus terus belajar mengikuti perkembangan
zaman., jngan sampai anak murid lebih pintar dari pada guru. Apalagi dengan
maraknya handphone dan gadget dengan teknologi tinggi yang sangat memungkinkan
siswa atau murid melakukan tindak kejahatan melalui dunia internet. Guru
diharapkan lebih mampu membina, mendidik membentuk manusia yang berkarakter, memiliki budi pekerti yang tinggi.
Jangan pernah terjadi lagi ada guru yang melakukan tindakan amoral dan
menyebar luaskan videonya. Menjadi seorang guru bukanlah hal yang mudah
karena
imbasnya tak hanya di dunia saja juga diakhirat, jika mengajar kebaikan
maka
imbalannya juga kebaikan. Dan tak ada lagi guru yang melakukan kekerasan
pada
siswa baik secara fisik psikis, ataupun seksualitas, karena banya sekali
berita kriminal yang menyiarkan bahwa ada seorang guru yang melakukan
kekerasan kepada anak didiknya. Menjadi guru itu harus disegani bukan
ditakuti.
Jika sekedar takut, dia hanya takut dihadapan kita tapi jika dibelakang
dia
mencibir dan menjelekkan kita. Tapi jika seorang guru yang disegani, dia
akan
menghormati jika berhadapan dan akan memuji dan menuruti jika dibelakang
guru.
Selain itu pemerintah harus meninjau kurikulum kembali,
coba saja kita lihat, pelajaran Matematika, Fisika,atau Pelajaran lain seperti
Komputer, Bahasa inggris, memiliki jumlah jam terbanyak tiap minggunya
dibanding Pelajaran Agama dan PPKN bahkan pelajaran tersebut di berikan les tambahan
diluar jam sekolah sedangkan pelajaran
Agama dan pembinaan akhlak hanya dua jam seminggu, bagaimana kita dapat
menanamkan nilai moral dengan waktu yang sedikit itu. Memang ini bukan tanggung
jawab guru saja , pendidikan orang tua, dan lingkungan juga mempengaruhi prilaku
anak, tapi paling tidak dengan begitu guru lebih leluasa dan memiliki waktu
banyak untuk membentuk muridnya menjadi
jiwa dan pribadi yang memiliki budi pekerti yg baik.
----