{blog} novanovili.com
{blog} novanovili.com
  • Home
  • DISCLOSURE
  • ABOUT ME
  • LIFESTYLE
  • FEMALE
    • Kesehatan
    • Kecantikan
    • Parenting
    • Relationship

    Ketika Malam mengakhiri waktunya..
    Rona-rona perak mentari mulai menyingkap cahaya..
    Dan dikala burung berlomba memperdengarkan siulan-siulan merdu yang bershut-sahutan.

    Pagi mengawali hari penuh damai
    Sejuknya semilir angin yang bebas polusi..
    Dingin oleh sisa-sisa tetesan embun...
    wangi-wangi bunga yang merekah menebar semerbak harumnya.

    Mendamaikan jiwa
    Yang mengharapkan
    Kedamaian
    Ketentraman.
    Cinta penuh kesetiaan
    Semangat -semangat baru
    Harapan indah penuh kebaikan

    Terimakasih pagi..

    By:
    Nova Violita ;)

    ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥
    Hari ini. Adalah tiga tahun lalu.
    Ketika rasa cemas berbaur dengan rasa bahagia.
    Rasa takut yang terekspresikan senyuman
    Mengikrarkan cinta di depan penghulu
    penuh janji mengikat cinta suci dengan nama Illah

    Terbetik harapan
    Dapat menyatukan Pendar-pendar rindu dihati kami.
    Menjadi sebuah cahaya cinta nan abadi.
    Bagai cahaya mentari .
    Yang hanya bisa meredup
    Ketika waktu dimana sang Kholik menutup segala pintu kehidupan didunia ini..

    Dalam bait-bait do'a yang tak kunjung sirna
    dalam sapuan lidah dan kecapan bibir
    berharap Sang Pencinta menjaga cinta ini dengan penjagaan cintaNya yang terbaik.
    Tetap menyelinapkan rasa kasih, cinta, dan rindu dihati ini,
     menjauhkan diri dari Fitnah nafsu yang keji.

     Tiga tahun lalu dan hari ini.
    Kami masih punya harapan yang sama.
    Cinta dan Cita yang sama
     Rindu yang sama
    Pelukan dan kecupan yang sama
    Kehangatan yang sama
    Takkan lekang dimakan usia
    Takkan tersapu keriputnya kulit
    Takkan tersamar  putihnya uban
     Insya Allah
    Selamanya
    . ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥ ♥


    BY :
    Nova Violita ;)


    Siapa ya?!
    Lisa mempercepat langkahnya, tiba-tiba rasa takut menyergap, debar jantungnya pun semakin tak beraturan, belum pernah ia diikuti oleh orang tak  di kenal seperti ini, ia memberanikan diri menoleh kebelakang, dia melihat sosok yang mengikutinya, sekilas yang dilihat malah tersenyum kepadanya.
    Degh!
    Kini bukan jantungnya saja yang berdegup, tapi kakinya juga menjadi lemas. Siapa sih cowok itu, bersepatu, berjaket hitam dan ransel dipunggung itu, bertopi dan mengenakan kaca mata hitam itu, apa maksudnya mengikuti ku seperti ini, duh... Mana jalanan sepi lagi , jangan-jangan punya niat jahat lagi .Semakin dipercepat langkahnya, dan sekarang setengah berlari. Sial , di lihatnya pria itu ikut berlari-lari kecil mengejarnya.

    Siang menjelang sore, matahari cukup terik, jam-jam seperti ini, jalanan komplek memang sepi, karena jam-jamnya orang-orang pada tidur siang atau beristirahat dirumah.  Jam 2 siang, perutnya terasa makin lapar di tambah dengan rasa takut, di pegangnya perutnya yang makin keroncongan itu. Nafasnya mulai terengah-terengah, di tolehnya pria di belakang, masih mengikutinya, dia tidak bisa  melihat jelas siapa pria yang menguntitnya, sejak turun dari angkot di halte depan, memang pria itu menjaga jarak dari nya.

    Sedikit mengangkat rok SMAnya yang panjang, agar lebih leluasa melangkah, semakin di percepatnya langkah, sekali lagi di tolehnya pria itu. Kali ini pria itu terlihat jongkok membenarkan tali sepatunya yang lepas dengan posisi kepala menunduk.
    Yes! Lisa bersorak dalam hati..
    Ini saat yang tepat untuk bersembunyi.
    Ya..di pengkolan depan ada bak sampah, dan sebatang pohon mangga, itu tempat  yang pas untuk bersembunyi. Hanya sepuluh langkah. Lisa langsung jongkok di pojokan bak sampah,dan menunduk dalam-dalam. Jantungnya makin berdebar, apa lagi suara langkah terdengar makin dekat. Di pasangnya telinga baik-baik.
    Tapi..kok sepi..
    Oh.. pasti sudah lewat....
    Hhhf...ia menarik nafas lega, tapi belum sempat mengangkat kepalanya.
    Plak!
    Auuuu!!!!
    Sebuah pukulan mendarat di bahunya, Lisa berteriak histeris
    "Hei! Ngapain kamu disini.... Pipis sembarangan ya!?" Suara berat menegurnya..
    "Nggak! Nggak! Saya ga pipis....!!"
    Suara lisa bergetar penuh rasa takut, kepalanya tetap menunduk..
    Kemudian ia memberanikan diri  berbalik menghadap pria yang menepuk pundaknya.
    Aaaaaa!
    Lisa kembali berteriak kaget , menyadari pria yang dihadapannya adalah pria yang menguntitnya. Lisa melompat kebelakang, Tapi sayang kaki kanannya, tersandung batu, dan iya kehilangan keseimbangan.
    Tapi..
    Hap!
    Pria itu cepat menggapai tangan lisa, menarik menahan agar Lisa tak terjatuh.
    "Jangan! jangan! Ampun jangan ganggu saya.." Lisa menggigil
    "Ha ha ha.....!!!"
    Pria itu terpingkal-pingkal, tertawa lebar...
    Lisa mengerutkan kening...
    Lalu pria itu..membuka topi, dan kaca mata hitamnya..
    "Ya Ampun..!!! Mas Haris!!" kali ini Lisa berteriak .senang, mas haris adalah kakak kandungnya yang kerja di Jambi, yang telah delapan bulan tidak pulang.
    "Mas...Haris ngapain..sih.... Ngikutin aku, mas kapan pulang....???" Seraya menggenggam tangan kakaknya itu, dengan bahagia.
    "He-he, tadi ketika di halte  Mas mau manggil kamu, tapi ketika Mas ikuti kamu seperti orang takut, ya kukerjain sekalian hahahahah" Haris tertawa puas..
    "Ih..mas jahat !! tadi itu aku hampir pingsan karena kaget tauk!!"
    Sambil menjewer telinga haris..
    "Oh...berani kamu ya....he." haris mencubit hidung adiknya itu.
    "Ampun....ampun...sakit tauk" Haris melepas cubitannya.
    "Ya sudah... Sekarang mending kita pulang, laper..."
    "Iya nih...perut kakak juga keroncongan...."
     
    ***
    Ha..ha. .ha
    Ibu Tono terkikik, mendengar cerita Putri bungsunya, bahwa telah di kerjai oleh Haris, Putra pertama nya itu.
    "Ya..sudah sekarang kalian ganti baju dulu...., cuci muka...mari kita makan siang, Ibu juga dah laper..nunggu kalian dari tadi.."
    "Ah..ntar aja ganti bajunya bu...Lisa udah laper...gemetaran nih..."
    "He he iya  bu...., aku kekamar mandi dulu cuci muka, kemudian langsung makan ya...."
    "Loh.... Ibu banyak banget masaknya.., enak lagi...." Lisa kaget melihat makan siang ada beberapa menu.
    "Ibu sudah tau Mas mu bakal  datang hari ini, Makanya ibu masak yang spesial.."
    "Kenapa ibu gak beri tahu...kalau Mas Haris Pulang hari ini....?" Lisa protes.
    "Aku yang larang ibu , agar  tidak memberi tahu kamu dulu...."
    Haris keluar dari kamar mandi, setelah memcuci  wajah, tangan dan kakinya yang kotor oleh debu. Maklum perjalanan Jambi Pekanbaru  cukup jauh.
    "Sukses.. Ya...?? Semuanya mengerjai aku hari ini...." sambil meneguk Es sirup kesukaannya.
    "Yukk...sekarang kita makan dulu..., setelah ini..."
    Ibu Tono..tak melanjutkan kata-katanya...
    "Setelah ini apa bu.....?"
    "Dah.. Makan dulu, cerewet kamu.." Haris memotong bicaranya..
    Lisa bersungut-sungut cemberut manja. Ibu Tono hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya.
    Kemudian Hening,
    Keluarga kecil itu ..begitu menikmati makan siang mereka dengan lahap, tanpa suara...hanya diselingi lirikan dan senyuman. Mungkin mereka begitu lapar dan terlambat makan siangnya.
    Dalam hening, Lisa bersyukur memiliki Kakak dan ibu yang menyayanginya, dan kebahagiaan ini begitu kurang lengkap tanpa kehadiran  Ayah. Tapi Lisa, tak bisa protes...karena Ayah takkan pernah kembali selamanya akibat penyakit paru yang  derita ayahnya, dan wafat setahun lalu.
    Tak terasa air matanya mengalir...dan terisak.
    Kakak dan ibunya kaget.
    "Kenapa kamu Lis...., apa masakan ibu terlalu pedas..?"
    "Atau perut kamu sakit...??!" Haris menimpali.
    Lisa menggeleng dan menyudahi makannya dan berlari kekamar
    Langsung membenamkan wajahnya ke bantal, dan menangis tersedu-sedu.
    Haris berdiri untuk menghampiri adiknya itu, tapi Ibu tono memberi isyarat agar ia melanjutkan makan siangnya.
    "Biarkan saja..., Lisa memang suka begitu, biar  ibu saja yang menenangkannya.."  Ibu Tono beranjak menghampiri
    Dibelainya dengan lembut kepala Lisa yang tertutup kerudung putih.
    "Lis... Kamu kenapa menangis, apa kamu marah karena telah kami kerjai?"
    Lisa mengeleng...dengan wajah masih tertutup bantal.
    "Lalu apa? "
    Lisa mengangkat wajahnya, dan duduk menghadap ibunya di tepi tempat tidur.
    "Ingat ayah, bu...." mengusap pipinya yang basah.
    Mata bu Tono berkaca-kaca..
    "Lisa ingat ayah bu, kangen sekali., seandainya ayah ada... Sungguh lengkap hari ini"
    "Iya... Ibu juga kangen, malah tiap hari lagi.., tapi Allah lebih sayang sama ayah...., kita mesti sabar dan ikhlas nak...." bu tono terisak dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Lisa jadi merasa bersalah telah membuat ibunya menangis, andai saja dia tidak memulai tentu ibu tak akan menangis.
    "Maaf kan Lisa bu, Lisa tidak bermaksud membuat ibu sedih." Lisa memeluk ibunya, Bu Tono mengangguk dan membalas pelukan Lisa. 
    "Kamu sih Yang mulai...." Haris masuk ke kamar Lisa
    "Lisa Kangen ayah mas....."
    "Kita juga kangen kok..., tapi kita mesti sabar dan ikhlas, atas takdir yang digariskan pada kita..."
    "Iya..mas, Lisa akan ikhlash.."
    Haris memeluk Lisa, dan ibunya...., mereka bertiga berpelukan penuh cinta.


    "Oh iya, ibu ada sesuatu untuk mu... Lis.."
    "Apa bu......??"
    "Sebentar.." Ibu haris keluar  menuju kamarnya.
    "Aku juga ada sesuatu untuk mu" Haris ikut-ikutan..
    "Apa sih..., jadi penasaran.?"
    "Bentar ya..." Haris  menuju ruang tengah dan mengambil Ransel, yang dia letakkan begitu saja ketika ia datang tadi.
    "Ih...Kompak banget ibu dan anak ya...? Jangan-jangan aku di kerjai lagi nuh..." Lisa curiga.

    "Taraaaaa....." Bu Tono datang dengan sebuah kado berwarna merah jambu, sedikit  pita kecil menghiasi..
    "Selamat hari lahir...ya nak..., semoga makin dewasa dan lebih bijaksana"
    Lisa terdiam hening, sedikit kaget.
    "Ahai!.. Aku juga punya sesuatu untuk kamu" Haris mengeluarkan bingkisan segi empat dari ransel besarnya., terbungkus dengan kertas kado berwarna biru.
    "Met ultah ya...penakut..." Haris lagi-lagi mencubit hidung adiknya..
    "Aduh! Ngasi kado tapi nyubit , sakit tau,"
    Ibu tono tersenyum melihat hidung Lisa yang memerah.
    "Ibu, mas Haris, terima kasih kadonya..., ku pikir ibu lupa dengan hari ini, dan aku,sengaja tidak mengungkit-ngungkit hari ini , karena tak ingin merepotkan" Mata Lisa mengembun lagi..
    "Mana mungkin kami lupa...jelek."
    Di sambut anggukan bu Tono.
    "Sekarang buka dong..kadonya, apa kamu tak ingin melihat isinya...."
    "Ih... Mau...donk bu..."
    Lisa buru-buru membuka kado pemberian ibu nya.
    Sebuah Mukena Cantik berwarna putih dengan sulam bunga-bunga,
    "Ya..ampun bu... Bagus sekali makasih ya....,"Lisa mencium pipi ibunya.
    "Syukurlah kamu suka, ibu harap kamu lebih rajin sholat, doakan ayah mu..."
    "Iya...bu, apa ibu lihat Lisa pernah  ga sholat....??"
    "Iya...iya.. Ibu tau."

    "Sekarang buka kado dari aku donk..."
    "Iya...iya... Sabar ngapa sih., waw...berat sekali, emang apa isinya kak.. Cor-coran semen ya atau batu bata?"
    "Idih...tega nian dirimu menuduh ku seperti itu, makanya buka donk..., biar tau...."
    "Waw... asyik” sebuah Note Book berwarna biru gelap , kini telah berada ditangannya.
    Lisa melonjak girang.
    “Terimakasih ya mas.....”
    ‘Iya... , tapi kamu mesti rajin belajar....”
    “Oke..aku janji deh....”
    “Awas...klo nggak..”
    “Iya..iya.., ah!!”
    “eh... kok jadi judes...”
    “Biarin..weeeek....” Lisa menjulurkan lidahnya..
    “Husss...kok malah berantem, kalian itu kakak adik harus rukun, ayah sudah tidak ada, kalau ibu tidak ada juga, bagaimana? Apa kalian musuhan? “ Ibu Tono menengahi.
    “Nggak kok bu..Cuma becanda”
    “Hmmm....” Haris mengejek..
    “Oke deh... minta maaf, maafin ya kak...terimakasih hadiahnya, akan Lisa jaga dengan baik..” Lisa  memeluk Haris, Haris membalas pelukan adiknya, melihat itu Ibu Tono  ikut mmeluk keduanya, Mereka tersenyum bahagia penuh kehangatan.
    Lagi-lagi Mata Lisa berkaca-kaca, Andai saja Ayah masih ada kebahagiaannya makin lengkap, Apalagi Note Book adalah hadiah yang pernah dijanjikan Ayahnya.

    “Nanti ketika kamu berusia 17 Tahun, Ayah akan belikan kamu Laptop kecil”
    “Kenapa mesti tunggu 17 tahun yah.., kelas satu sma juga butuh Laptop”
    ‘Iya.. tapi sekarang ayah belum punya uang, kamu sabar ya...”
    ‘Hmmm gitu ya..., oke lah..pak Hartono, S.Pd” Lisa bergelayut manja di lengan ayahnya

    Mengalir air mata Lisa mengenang hal itu, semakin kuat rindunya pada Ayah. Tapi dia memendamnya dalam hati, dia tak ingin Ibu dan mas Haris tahu, takut membuat mereka sedih.
    Dia hanya tersenyum dan bahagia dalam pelukan mas Haris dan Ibunya. Sungguh dia tak menduga akan mendapat hadiah dari keluarganya.

    (SELESAI)

    By:
    Nova Violita ;)
    Sumber Foto : Internet

    Arrghhhh!!!

    Bantingkan
    Hempaskan 
    Pecahkan
    Lemparkan..
    Lemparkan Semua yang ada..

    Berteriaklah..
    Memaki
    Menggeram..
    Menangis.

    Merah padam wajah diluap marah..
    Getar suara memecah udara
    Sesak sempit dada di hujam benci..
    Dendam tersematkan  di relung dada..

    Kemudian...

    Waktupun terelewat bersama angin nan berlalu..
    Meredam dalam diam..
    Isak kegeraman menyepi..
    Tertunduk layu
    Menatap...
    Serpihan kemarahan nan tertinggal..
    bersama sesal yang mencengkram..
    namun waktu takkan pernah kembali.

    By :
    Nova Violita ;)

    *Kemarahan selalu berakhir dengan penyesalan*

    Sumber foto : internet


    Gila!
    Ini benar-benar gila, kenapa aku tak bisa menghapus bayang-bayangnya, Dia selalu saja berputar-putar di kepalaku.
    "Sudahlah... Kau lupakan saja dia Mir...tak pantas kamu dalam  kungkungan cinta lelaki seperti dia"
    Nasihat Elena masih terngiang-ngiang , keluar masuk kupingnya.

    Ugh!
    Geram Mirna, tentang perasaannya ingin rasanya ia menghancurkan kaca meja riasnya...biar tahu seperti itulah hancurnya perasaannya saat ini.
    Antara benci,muak,geram namun juga rindu.

    Ah..lelaki itu sudah mempermainkannya..tapi kenapa ia menyukainya...
    Cuma mulut lelaki itu terlalu manis menggodanya.

    "Sadar Mir...sadar, dia itu lelaki beristri, dan kamu juga telah memiliki  suami dan anak-anak yang mengasihimu"
    "Tapi El...suamiku itu kurang perhatian, siang malam selalu sibuk dengan kerjaannya, jarang sekali kami pergi berduaan..., atau jalan sama anak-anak"
    "Mir..itu bukan alasan"
    "Suami ku itu tidak romantis...jarang sekali aku mendengar dia berkata manis atau merayuku...walau cuma sekedar gombalan..."
    " Itu juga bukan alasan Mir.."
    "Ah! Kau El...kamu gak pernah ngerasain..bagaimana enaknya..sensasi selingkuh, ada debar indah yang tak pernah dirasakan sebelumnya"
    "Astaghfirullah....ngucap Mir, Istighfar.. Kamu benar-benar... " Elena tak melanjutkan kata-katanya..takut hanya memperburuk situasi.
    Mirna terdiam... Air matanya yang sejak tadi terbendung, mengalir membasahi pipinya yang mulus.

    "Mirna...." Elena memeluk sahabatnya itu dengan   hangat
    "Mirna...kenapa kamu telah menyulut api...yang kamu bilang cinta dan kerinduan itu..., yang kamu  bilang memiliki sensasi dan debar indah itu, tapi ..nyatanya, saat ini kamu  justru terbakar dan sakit."
    "Dia baik dengan ku... El, dia selalu perhatian denganku dia menyayangiku, dia bilang dia mencintaiku karena Allah.." Mirna tertunduk..terisak

    He he.
    Elena tertawa tertahan mendengar perkataan Mirna.
    "Terus.. Dia seperti apa lagi Mir..?"
    "Ya..dia orangnya santun..lemah lembut...."
    Elena mendengar itu menjadi tak sabar..begitu geram pada sahabatnya ini...tapi dia begitu menyayangi Mirna.

    "Mir..." Elena mengangkat dagu Mirna yang tertunduk.
    "Tatap mataku.."lanjutnya..
    "Apakah kau masih menganggap ku sebagai sahabat mu...?" tanya Elena
    "Tentu El..bahkan kau telah ku anggap sebagai saudaraku, maksud mu apa bertanya seperti itu..?"

    "Oke, jika kamu masih menganggap aku sebagai saudaramu, coba dengarkan nasihatku, jika kamu tak mau  menuruti kata-kata ku, lebih baik kita tak usah saling mengenal lagi"

    "Kok kamu..gitu  sih?" Mirna menyeka pipinya yang basah.

    "Itu karena aku tak ingin mempunyai saudara yang jahat sepertimu." Elena tegas

    "Kamu tega. Tega kamu El.!! Kamu gak punya perasaan...lebih baik aku pulang percuma aku kesini..!" Mirna makin emosi, bangkit mengambil tasnya.. dan melangkah pergi.

    "Tunggu." Elena  cepat menangkap tangan mungil mirna.

    "Sabar Mir...dengarkan aku dulu.." Mirna kembali duduk.

    "Mari..ikut aku..." Elena menarik tangan mirna, mirna mengikuti elena..
    "Coba lihat..." Elena mengajak pada sebuah cermin besar diruang tengah rumahnya
    "Lihat lah, kamu seorang wanita muda, cantik, berkerudung....dan ini." Elena mengambil tas Mirna dengan sedikit kasar dan mengeluarkan sebuah mukena.
    "Apa pantas seorang wanita berkerudung, yang orang menganggapnya sebagai wanita baik..tapi memiliki sifat munafik!"
    Mirna terdiam, ntah kehabisan kata-kata atau  memang tak sanggup lagi berbicara..
    "Mirna...." suara kembali melemah.
    "Cobalah kamu berfikir jernih...lelaki itu cuma mempermainkanmu, dia itu lelaki bajingan munafik, yang bersembunyi dibalik santunnya, mana ada perselingkuhan membawa-bawa nama Tuhan, jelas-jelas perbuatan itu dibumbui oleh setan dan dibenci tuhan. Perhatian yang diberikan kepadamu itu, cuma omong kosong. Lelaki seperti itu cuma mencari selingan diantara kejenuhan rutinitasnya, dia mencari sensasi baru dengan mendekati wanita-wanita yang gampang tergoda, kemudian meninggalkannya, jika ia merasa bosan atau misinya telah terpenuhi"

    Mirna terisak mendengar penuturan Elena.

    "Coba kamu bayangkan bagaimana perasaan istri lelaki itu...., jika dia mengetahui suaminya berselingkuh, atau bagaimana perasaanmu jika Husin, suami mu itu berselingkuh, memiliki hubungan intens dengan wanita lain, he?"

    Mirna  mekin terisak hingga ujung hidung nya memerah

    "Oke, jika kamu bilang suami mu itu kurang perhatian, kurang romantis..tapi itu bukan alasan..., dan tak ada alasan untuk pembenaran sebuah dosa Mir...., baiklah anggap saja suamimu juga berselingkuh, itu juga bukan alasan ...jika dia terjerumus pada limbah dosa..kenapa kita mesti ikut terjun ke dalamnya?" Elena mengusap pipi sahabatnya itu dan memeluk hangat.

    Mirna tergugu...apa yang dikatakan Elena semuanya benar... Dia merasa kecil dan bodoh dihadapan sahabatnya itu, padahal dialah yang pertama kali mengajak Elena untuk bebusana muslimah, ikut pengajian, berusaha menjadi wanita yang sholeha, tapi kenapa justru dialah yang kini yang Futur dan imannya menipis hanya karena rayuan seorang laki-laki musang berbulu domba. terlihat santun tetapi memiliki pikiran yang picik.

    "Terimakasih...El.., kamu telah membuka hatiku,kamu memang saudara terbaikku.." Mirna mempererat pelukan sahabatnya itu.

    "Sudahlah Mir..itulah gunanya saudara, kita bukanlah makhluk sempurna.., adakalanya kita khilaf dan tugas saudara adalah mengingatkan..dan menunjukkan jalan yang benar..dikala kita telah menyimpang dari jalan kebaikan" Elena bijak sekali....semakin malu rasanya pada Elena

    "Sekarang lebih baik kamu cuci muka dan ambil wudhu, rapikan wajahmu..., hari sudah sore..lebih baik kamu pulang.., anak-anakmu pasti telah menunggu "
    Bersyukur sekali memiliki sahabat yang dapat memahami perasaannya

    ***

    Itu pembicaraan seminggu   yang lalu di rumah Elena, .Dia sudah berazam tak kan lagi mengulangi dan tak ingin memenjakan rasa ini terus menerus..., tapi hati ini kenapa begitu kuat terpaut..., bayang-bayang lelaki itu..sesuka hati keluar masuk meyelinap dalam relung -relung kalbunya.

    Prasetiyo.
    Ya.
    Pras yang telah membuatnya begini, Pras lah yang membuat hatinya menjadi lemah dan ringkih, sesungguhnya dia sadar tak pantas air mata ini mengalir hanya untuk seorang lelaki yang di haramkan untuknya, tapi bagaimana  ia harus bersikap setan begitu kuat menggelayut dihatinya. Dia telah mencoba berdo’a , Sholat lail, mengaji.... ah, tapi mengapa  bayang-bayang Pras tak lepas dari pikirannya, sungguh telah merusak konsentrasinya..
    Beberapa hari ini pikirannya begitu kacau, masakannya pagi ini  rasanya tidak karuan, gorengan Tahu dan tempe, sedikit menghitam hampir gosong dan terasa agak pahit. Terbit rasa bersalah dihatinya ketika menyuguhkan itu semua untuk sarapan suami dan anak-anaknya.

    “Maafkan Mama ya, makanannya agak gosong”
    “ Mama melamun nih, pasti masaknya sambil mikirin hmmm...” Dzaki anaknya yang paling tua kelas 2 SMP itu menyahut , tapi belum selesai  sudah  dipotong oleh suaminya.
    “Mama masaknya sambil mikirin cowok ganteng sih..” sambil meminum segelas teh  buatan Mirna. Mirna terkesiap mendengar ucapan suaminya, hatinya berdebar.
    “Cowok ganteng apaan sih pa?  Emang cowok ganteng mana yang mama pikirin?!” suaranya agak keras dan sedikit tersinggung.
    “Ih..mama kok marah.?” Uchi anaknya yang duduk  dibangku kelas lima Sekolah dasar itu sambil menyuap mi goreng kesukaannya..
    “Maaf..., habis papamu sih....” Mirna tersadar, dan melunakkan suaranya..
    “Mama kalian lagi kesambet, jadi lagi sensitif....jadi hati-hati ngomong, papa tahu kok cowok mana yang di pikirin mama...” Jantung Mirna makin berdetak  tak karuan.
    “Siapa pa?”
    “ Emang siapa pa?” Uchi penasaran juga.
    “Hmmm...cowoknya adalah...hmmmm.. kasiiiii..tau..gak ya.....”Husin menahan senyumnya..
    “Yah..kasi tu lah....Dzaki penasaran nih..”
    " Cowok itu ..adalah........”Husin melirik Mirna, yang sibuk mengelap piring dan Mirna pura-pura menunduk tak melihatnya dia takut Husin tahu perasaannya.
    “Cowok ganteng itu adalah Papaaaaaa.......!!!” sambil terkikik.
    Dzaki dan Uchi ikut tertawa.
    “Ih...papa narsis nih..uhuk..uhuk” Dzaki tertawa sampai terbatuk-batuk..
    “Satu kosong..satu kosong.., mama di kerjain papa” Uchi menyela
    Mirna tersenyum geli plus lega...., tapi jauh disudut hatinya ia merasa was-was, jangan-jangan kelekar  pagi ini hanya sindiran untuk dirinya dan sebenarnya bang Husin tahu apa yang telah di perbuat nya.

    (Bersambung)

    By:
    Nova Violita ;)

    Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

    ABOUT ME

    Hai, saya Nova, seorang ibu, blogger, dan freelance digital yang senang berbagi cerita melalui tulisan. Di blog ini, saya menulis tentang lifestyle, dunia perempuan, kesehatan, serta berbagai informasi menarik lainnya. Semoga setiap artikel yang Anda temukan di sini menjadi teman membaca yang menyenangkan. Terima kasih sudah berkunjung dan menjadi bagian dari perjalanan blog ini. Jika tertarik untuk bekerja sama, silakan cek halaman Disclosure..

    SUBSCRIBE & FOLLOW

    POPULAR POSTS

    • Vitalis Perfumed Moisturizing Body Wash, Sensasi Mandi Parfum
    • 10 MERK PANCI PRESTO DENGAN KUALITAS TERBAIK DI INDONESIA
    • Hai, Salam Kenal
    • √SAKIT MAAG MEMAKSAKU UNTUK ENDOSKOPI
    • SEMANGAT MENJAJAKI HIDUP DI USIACANTIK

    Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates