![]() |
| Bancakan dengan menu sayur gudangan, ikan asin , telur, ayam goreng, dan kerupuk |
Waktu kecil aku sering makan among-among atau bancakan , menunya biasanya urab atau gudangan ada telur dan ikan asin. Seingatku acara ini diadakan kalau ada lahiran adek bayi atau mengingat hari lahir. Kadang juga acara selamatan atau syukuran setelah habis sakit.
Tanpa undangan sebelumnya, jadi anak-anak sekitar rumah dipanggil ngumpul gitu aja... bahkan yang sedang main dilapangan juga. Ga perlu pake baju bagus atau nyiapin kado apa pun, terus kami diberi nasi dan lauk pauk yang dibungkus dengan daun pisang. Boleh makan ditempat juga boleh dibawa pulang.
Kalau sekarang lebih simpel, biasanya yang punya hajat udah membungkusnya dalam kotak makanan, atau cup plastik, terus langsung diantar kerumah tetangga -tetangga dan mengatakan ini bancakannya si A, yang lagi Ulang tahun atau alasan lainnya.Tradisi ini terkadang dilakukan tak hanya oleh para Pujakesuma :D alias putra/putri jawa kelahiran sumatra. Tapi juga oleh suku melayu dan minang. Ya... mungkin menu gudangannya itu enak..jadi banyak yang suka.
Miasalnya untuk memperingati hari lahir, dari pada ngadain acara ulang tahun , pakai ngundang, bikin kue dan tiup lilin, banyak yang bilang udah diamong-amongin aja... bagi-bagi rejeki , semoga makin sehat dll.
Beberapa waktu lalu Hamid habis sakit, kok jadi kepikiran pengen ngadain bancakan juga.
Aku ngadain ini murni ingin berbagi, gak ..ada maksud lain , Sayur tak mesti tujuh macam tanpa bubur merah atau putih, tanpa peduli weton dll. Karena setelah acara dilakukan kok aku nemuin situs yang rada seram , disitu diterangkan kalo bancakan ditujukan buat "pemomong bayi", la..yg momong bayi kan kita.... siapa yang dimaksud? ntahlah... aku jadi takut kalo ini sebuah kesyirikan.
Tapi bagiku semua tergantung Niat. Niat karena Allah, tujuan hanya ingin bersyukur dengan cara berbagi dengan menu tersebut. Toh..sedekah tak tergantung menu, waktu, dan harus ini itu. Wallahualam.
Keluarga dekatku sering mengadakan ini, aku tidak tahu apakah tujuan mereka lurus ingin berbagi atau terikat pada ritual-ritual seperti dikatakan situs tersebut. Tapi sepengetahuanku biasanya mereka membungkus menu tersebut dan membagikannya pada anak-anak, tak pernah melihat mereka membuat ritual-ritual lainnya. Mungkin tradisi ini terbawa dari kakek -nenek moyang dahulu yang berasal dari daerah jawa. Hmm.... sepertinya termasuk aku disini he2.... menu sama tapi niat harus beda donk.
Bagaimana di tempat lain selain pulau jawa adakah bancakan ini dilakukan?
O, iya... kalau teman-teman baca ini n bilang.." kok aku ga kebagian ya...?" he2, maaf karena aku cuma bikin sedikit untuk anak-anak tetangga dekat rumah aja.




