Media sosial seperti rumah berdinding kaca, betul itu akunt atau rumah kamu sendiri, kamu bisa bebas melakukan apa saja. Tapi ingat rumah kamu berdinding kaca bahkan tak memiliki batas dengan dunia luar apapun yang kamu lakukan akan mudah terlihat dan terdengar oleh semua orang. Apapun yang kamu tuliskan dapat dibaca oleh ruang publik, dan publik dengan bebas mengartikan, menduga, bahkan menuduh apa yang kamu unggah. Tentu, kita pun tak bisa menyalahkan apa yang mereka anggapkan tentang diri kita, toh kita sendiri telah memberi peluang untuk di nilai negatif.
Sebagian orang ada pula menganggap sosial media sebagai tempat pencitraan. Menuliskan yang baik-baik, mengunggah yang baik-baik, dan orang-orang yang tahu siapa kamu,menilai mu munafik. Tapi, paling tidak jika mengunggah sesuatu yang baik , kita memberikan pengaruh positif untuk orang-orang yang membaca dan melihat apa yang ditulis. Memberikan efek positif untuk kita yang menulis, yang pelan-pelan bersikap menyesuaikan apa yang kita tulis, atau sebagai pengingat pribadi. Tak ada minusnya jika kita menuliskan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi pembaca atau melihat apa yang kita share di sosmed.
Beda halnya jika kita menuliskan sesuatu yang buruk, ntah ucapan kasar, menyindir , memprovokasi, marah, memaki, atau sekedar sharing konten negatif tanpa menyaring dulu berita apa yang kita bagikan apakah, benar atau cuma kebohongan.
Ini Kenapa Kamu Tak Boleh Memaki di Sosial Media :
Penilaian Negatif. Menuliskan yang baik saja dianggap pencitraan dan dituduh munafik. Wajar saja ketika kita dianggap pribadi yang buruk ketika memperlihatkan kemarahan di sosial media.
Dijauhi Teman. Teman-teman yang awalnya respect dan perhatian, tiba-tiba menjadi enggan untuk sharing , curhat , dsb. Mereka menganggap kamu memberikan aura negatif kepada mereka. Jujur saja ketika ada orang marah-marah tidak jelas kita sedikit banyak jadi ikut emosi-an, tidak sehat secara psikologis.
Jauh Jodoh. Buat single yang sampai saat ini yang jodohnya belum kelihatan hilalnya, coba deh lihat-lihat status yang lalu. Apakah banyak berisi curhatan negatif, mengeluh , memaki kasar orang lain bahkan saudara sendiri, menyindir yang orangnya ntah siapa seribu pembaca ikut baper berjamaah. Ya, siapa juga yang mau sama orang yang dikit-dikit curhat di FB, dikit-dikit marah bikin status , live Instagram, status WA, BBM. Mereka calon jodoh kamu pasti membayangkan bagaimana jika ada masalah dengan mereka, atau mertua, terus di sindir di status dll, orang sekitar Indonesia raya bakalan komentar. Sungguh memiliki pasangan yang seperti ini sebuah kekhawatiran tersendiri, calon jodoh mikir banyak untuk melamar kamu, atau ogah minta dilamar.
Jauh Jodoh. Buat single yang sampai saat ini yang jodohnya belum kelihatan hilalnya, coba deh lihat-lihat status yang lalu. Apakah banyak berisi curhatan negatif, mengeluh , memaki kasar orang lain bahkan saudara sendiri, menyindir yang orangnya ntah siapa seribu pembaca ikut baper berjamaah. Ya, siapa juga yang mau sama orang yang dikit-dikit curhat di FB, dikit-dikit marah bikin status , live Instagram, status WA, BBM. Mereka calon jodoh kamu pasti membayangkan bagaimana jika ada masalah dengan mereka, atau mertua, terus di sindir di status dll, orang sekitar Indonesia raya bakalan komentar. Sungguh memiliki pasangan yang seperti ini sebuah kekhawatiran tersendiri, calon jodoh mikir banyak untuk melamar kamu, atau ogah minta dilamar.
Dituntut secara hukum. Nah, mengerikan ya?. Beberapa waktu lalu ada kejadian “lokal” bukan sekala nasional maksudnya. Si A marah-marah karena si B tidak bayar hutang, sebenarnya sangat wajar ya . Tapi menjadi masalah ketika marah di Facebook pakai nyolek nama si B. Akhirnya keluarga si B marah, menganggap sebagai pencemaran nama baik anak mereka, selanjutnya bisa saja sih dituntut secara hukum, tapi sepertinya diselesaikan secara kekeluargaan.
Menyerang diri sendiri. Segala efek negatif yang ditimbukan dari perkataan kasar yang disebutkan sebelumnya memang bisa dikatakan Boomerang, menyerang diri sendiri. Tapi yang ini dimaksudkan adalah secara kejiwaan diri sendiri. Ketika melampiaskan kemarahannya itu artinya memupuk kebencian di hati, bukannya membuat lebih tenang justru kebencian terus terpupuk, karena terpengaruh dari munculnya beragam komentar, apalagi mendapat komentar yang terkesan “mendukung” apa yang telah kita perbuat.
Sebenarnya ntah itu kemarahan di dunia nyata ataupun dunia maya, tak selayaknya mengumpat, memaki ,dan sejenisnya. Marah mungkin cuma butuh waktu sedikit tapi biasanya menuai penyesalan yang panjang.
#selfreminder

