Beberapa hari ini media sosial TikTok dihebohkan dengan video
seorang ibu yang memberikan sarapan kepada anaknya sebelum berangkat sekolah
dengan roti gandum dengan toping
lelehan krimer kental manis juga 3 gelas susu kental manis dan ditambah gula pasir. Video ini menuai banyak
kecaman dari para dokter, ahli gizi dan
orang tua lainnya, karena dianggap membahayakan kesehatan anak.
Di sini aku mau cerita sedikit. Sekitar 2 atau 3 minggu sebelum bulan Ramadhan lalu ibu mertuaku mengeluh sakit maag, mual ingin muntah, tidak selera makan, dadanya terasa panas dan nafas agak sesak. Keadaan seperti itu dirasa sudah semingguan, diberi obat maag biasa, gejala tersebut tidak juga hilang. Akhirnya karena udah lemas dibawalah ke klinik dekat rumah dengan keluhan maag, asam lambung. Gejala berkurang, dan kami bawa pulang namun hanya selang dua tiga hari keluhan itu kembali muncul, akhirnya bolak balik ke klinik, bahkan sampai dirawat inap sekitar 2 mingguan, kemudian dibawa pulang. Tetapi tidak ada kemajuan yang signifikan.
Saat masak kita sering menggunakan berbagai bumbu dan penyedap rasa untuk meningkatkan cita rasa makanan kita. Dua di antaranya adalah gula dan Monosodium Glutamat (MSG). Banyak info yang menyebutkan bahwa MSG sangat tidak baik dikonsumsi, sehingga untuk mendapatkan rasa gurih kita memilih menambahkan gula pada masakan, karena merasa lebih alami dan tidak banyak bahan kimia. Namun makin kesini keduanya sering menjadi perdebatan dalam hal kesehatan. Sebenarnya mana sih yang lebih berbahaya? Yuk kita kulik satu-satu
Pengalaman Sakit Asam Lambung
Teman-teman yang sering wara wiri di blog aku
pasti tau kalau aku itu salah satu orang yang punya pengalaman gak enak banget
dengan penyakit asam lambung dan Gerd. Bahkan tulisan aku yang berjudul “Sakit maag memaksaku untuk endoskopi” menjadi urutan ke lima terpopuler dari blog
ini. Dan banyak lagi tulisan-tulisan lain dengan tema serupa.
Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang pentingnya
edukasi dan kerjasama berbagai kalangan untuk menghapus stigma bahwa
penderita penyakit kusta tidak perlu dikucilkan bahwa mereka punya hak untuk
berbaur di ruang publik, artikel nya bisa dibaca di sini . Kali ini tidak
hanya membahas tentang Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) tetapi
disabilitas secara umum dimana mereka juga berhak untuk mendapatkan pekerjaan
baik secara formal maupun informal, dengan begitu mereka bersemangat menambah
skill baik hard skill maupun soft skill menjadi lebih produktif karena mereka
merasa memiliki peluang untuk diterima bekerja.