DARI "UJIAN UNTUK PUAN"

14:14:00




Mendengar dan membaca time line  yang berseliweran  mulai dari cerita tentang  Sonya Depari seorang siswi  SMU Medan  yang membentak polwan ketika melakukan pelanggaran  lalu lintas dan kisah  beberapa siswa siswi  yang melakukan pesta seks setelah UN, timbul pertanyaan ku segitu menakutkan kah Ujian Nasional itu, sehingga siswa siswi kita merasa tertekan , dan perlu merayakan  dengan hal-hal yang  tak pantas.  Setiap Ujian Nasional menjelang tak hanya siswa-siswi  yang ketakutan,  orang tua ,bahkan guru pun ikut merasakan was-was, AADU – Ada apa dengan UN ?.
Ujian Nasional dengan standar nilai yang tinggi dan segala peraturannya, sisi baiknya anak mungkin akan rajin belajar dan orang tua  pun ikut  peduli dan mendukung anak – anak untuk menghadapi ujian. Namun dibalik itu ada sisi negatif bahkan terbentuknya satu persekongkolan dan kebohongan baru yang tercipta dari segala tingkatan, sebagian orang tua ada yang mencari kunci jawaban, bahkan kepala sekolah dan guru berusaha meluluskan anak didik mereka  hanya untuk memenuhi sebuah standarisasi pendidikan.


Disini aku tidak akan membahas tentang UN dan tetek bengeknya tapi  kisah sedih dibalik UN itu jelas tertangkap pada cerpen “Ujian untuk Puan”. Bagaimana seorang guru yang terpaksa dan dipaksa untuk tidak jujur, dengan memberikan kunci jawaban UN ke anak-anak mereka dengan sedikit “sandiwara”. Cerpen ini dikemas secara baik sehingga ketika aku membacanya serasa menjadi  aku lah puan yang diuji itu, aku yang derai airmata menuliskan jawaban untuk anak-anak yang terpakasa membelakangi kejujuran. Aku yakin cerpen ini merupakan suara hati kejujuran dari penulisnya, bahwa dari Sistem UN yang diberlakukan ada orang-orang yang terpakasa mengorbankan idealismenya.

Cerpen ini merupakan karya dari  Uni Ira Guslina  , yang memang sejak SD sudah menyenangi pelajaran Bahasa Indonesia yang membuatnya berlabuh Surat Kabar Kampus Bahana Mahasiswa Universitas Riau dua belas tahun lalu. Pantas saja tulisannya sangat bagus dan mengena.

Uni Ira ini  sudah banyak pengalaman Ketika kuliah ia sangat  aktif di luar kampus. Ikut penelitian kebudayaan, dan pernah satu tim dengan peneliti Belanda dan  pada 2003-2007 belajar banyak tentang kehidupan karena beberapa kali harus menginap di kampung-kampung, berkorespondensi dengan Suku Sakai, Suku Talang Mamak, yang merupakan penduduk tempatan Melayu. Di tahun 2008 sembari melanjutkan kerja sosial dan budaya, ia terlibat dalam kelompok kerjasama ekonomi tiga negara yang lebih dikenal dengan IMT-GT (Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle) yang melibatkan KADIN, Pemerintah, dan dunia usaha dari ketiga Negara. Pada 2010 panggilan kerja dari sebuah perusahaan membuat menetap di Jakarta dan perjalanan ke beberapa kota pun dimulai. 

Sekarang Uni Ira Guslina  aktif ngeblog dan menjadi Full time moms dari kedua buah hatinya Bintang dan Azizah, yang kemudian nama kedua anaknya itu disematkan pada nama situs pribadinya Dunia Biza, Dunia Bintang dan Aziza, kreatif banget . Buat yang ingin tahu dan kenal dengan Uni Ira bisa kepo akunt pribadinya :
Email      :duniabiza@gmail.com
Twitter   :@duniabiza
Facebook : Ira Guslina

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

29 komentar

  1. Ga pernah ngalami juga.. tapi saya benar2 ga kebayang ya mba bagaimana susahnya situasi guru2 yg menghadapi situasi begitu. Semoga tak benar adanya dna hanya cerpen.. :-) terima kasih mba tulisannya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin...semoga guru2 tauladan kita..selalu mengedepankan kejujuran..tak hanya guru..tapi juga pihak2 yang terkait..

      Delete
  2. Mbak Ira orangnya sederhana tidak sombong. Saya baru main ke blognya beberapa waktu lalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kesederhanaan..identik dengan kebaikan..hi2

      Delete
  3. tulisannya sangatlah kreatif, sedrhana tapi menyentuh hati. terima kasih tulisannya. semoga tambah sukses dan kreatif. ditunggu tulisan tulisannya lagi yes,,..

    ReplyDelete
  4. akhirnya saya tau arti dari BiZa, hehe dulu mikirnya plesetan dari kata "bisa" :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha..awalnya aku juga mikir gitu mba..eh..ternyata paduan nama buah hatinya....

      Delete
  5. wah mbak saya rencana nulis soal ini juga lho hihi
    salam kenal balik
    biasanya saya followback yang sering interaksi di blog by komen misalnya :)
    kalau untuk followers banyak soalnya umur blognya sudah lumayan tua. dan sejak awal dibuat saya memang sudah aktif update :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah..udah lama ngeblog ya.... , senior nih hi2

      Delete
  6. nikin cerpen paling aku hindari hehehe. Harus belajar lagi ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau aku susah bikin klimaksnya...datar ajah..

      Delete
  7. ooh baru tau Biza itu singkatan dari Bintang dan Aziza :)

    ReplyDelete
  8. Inspiratif, saya karena baru menjadi orang tua merasa waswas jika UN bukan hanya jadi media evaluasi, namun malahbtragis sebagai wahana menumbuhkan sikap bohong dan tidak jujur

    ReplyDelete
    Replies
    1. standar yang harus dicapai..membuat sebagian orang mencapainya dengan cara yang tidak baik..

      Delete
  9. sahurusnya pemerintah segera tanggap dan berbenah soal ini, jangan biarkan berlarut2 jika tidak ingin melahirkan generasi2 korup dan tidak jujur. maju terus indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin..maju terus indonesia..
      semoga semakin banyak yang mengedepankan kejujuran.. terutama para pihak yang terkait..

      Delete
  10. Sudah baca cerpennya, Mbak Ira..ehm, iya, Mbak serasa kitalah yang menjadi Puan saat membacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. tuh..kan.. bukan saya aja yang ngerasa begitu..

      Delete
  11. pas paca cerpen Mbak Ira (nama kami sama, hehe) saya jugamerasa miris banget Mbak, betapa banyak guru yang mengorbankan idealisme-nya hanya untuk menyelamatkan "nama baik sekolah" :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu..kayanya udah jadi rahasia umum.. dulu guru ikutan ngawas..ga boleh anak-anak nyontek.., sekarang karena ada tekanan pada instansi sekolah... malah sekolah ikut memberikan kisi2 jawaban..

      Delete
  12. Perkara un mang tiada habisnya ya mb nov dari tahun ke tahun
    Wah cerpen uni ira agaknya juga banyak yang isi hati dari banyak guru kita yang sebenernya pingin jujur dalam plaksanaan birokrasi un ya

    ReplyDelete
  13. waktu jamannya UN dulu sih santai aja, anggap aja gak penting padahal mah penting. Biar apa? biar pas ngerjain gak tertekan dan gak takut gak Lulus. Akhirnya gue lulus :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. dulu zaman aku.. awal 2000 an.. ah ketahuan umur.. lumayan santai.., nah kalo sistem sekarang..mungkin aku ga lulus...hahaahah

      Delete
  14. Cerpennya menyentuh ya emang. Tapi untungnya UN sekarang nggak setegang UN tahun-tahun 2005-2014an yang terpaku sama batas kelulusan.

    ReplyDelete

Terimakasih atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya di sini yach...:), Tidak terima komentar spam dan komentar mengandung Link atau brokenlink akan dihapus..

FOLLOWERS

LIKE NASHHAH ON FB

GOOGLE FOLLOWERS

VIVA LOG

PAGEVIEWS

RANK ALEXA