Mungkin Lucu, Tapi Tak Lucu



Tiap anak memiliki keunikan sendiri , apalagi anak balita. Anak usia balita umumnya serba baru bisa  , jadi tak heran jika banyak ucapan dan tingkah nya yang belum pas bahkan terkesan lucu. Tak jarang kita merasa geli dengan perilaku mereka, gemas, dan lucu yang membuat tangan kita gatal untuk mengabadikan moment-moment itu ke social media. Ntah itu menuliskan kembali ataupun sengaja merekamnya lalu mengaploadnya.


Saya juga begitu, kadang suka menuliskan kembali ke dinding Facebook , ya ada beberapa lah nggak semua. Anak itu peniru sejati dari orang sekitarnya…

Baca juga : Menanamkan keimanan sejak dini


Saya merasa lucu ketika Hamid menasehati saya.
Waktu itu setelah hujan ,  diluar basah dan becek, kami berdua duduk dekat pintu   menghadap keluar.
Hamid : Mi, itu becek ya, hujan.
Saya : Iya.
Hamid : Umi jangan main kesitu ya, nanti kaki umi kotor.Ya ampun, itu harusnya saya yang ngomong. Langsung tak cubit pipinya gemes.


Lain waktu dia memberikan alasan yg nggak tepat. Saya iseng mengolesi kuku jempol kakinya dengan pemerah kuku saat saya pakai Inai. Lalu dia ngomong, jangan mi..gak boleh. Kenapa gak boleh iseng aku bertanya? Gak boleh Hamid masih demam, padahal gak demam. Aku ketawa apa hubungan pakai inai dan demam.

Baca juga : Ketika anak tumbuh sebagai penentang


Anak memang suka mencari alasan, sesuai apa yang sering dia dengar dan lihat. Itulah sebabnya kita kudu hati-hati saat bicara dan berprilaku  dihadapannya. Anak usia emas daya rekannya begitu kuat. Saya merasa kecolongan saat Hamid senang mengatakan “mampus” saat ada yang merasa sakit atau bilang “aduh”, padahal aku gak pernah mengatakan itu, tapi apalah daya  ketika dia mendapatkan kosakata itu diluar kendali kita, faktor lingkungan ikut mempengaruhi perkembangannya.

Selucu-lucunya anak tapi mohon tidak mengunggah yang sebenarnya gak lucu. Beberapa waktu lalu berseliweran seorang anak yang nangis dimarahin ibunya. Aku gak hafal banget sih tapi garis besarnya si ibu bilang anaknya nakal. Kemudian anak mencari alasan bahwa bukan dia yang nakal tapi “otakku yang nakal Mak" , “ Jadi otakmu yang nakal, pukul otak mu". Tapi menurutku kok gak ada lucu-lucunya sama sekali, ya. Menurutku ada yang salah, ketika anak ngomong begitu, pasti dia juga sering mendengar kata “otak” tersebut. Ada rasa ketakutan luar biasa pada anak, sehingga anak sengaja mencari-cari alasan untuk berbohong. Kok aku ada rasa khawatir gitu, kasian aja melihat anaknya. Lucu menurut kita belum tentu orang punya penilaian yang sama, untuk itu gak perlu share lah jika itu justru akan mempermalukan anak, bahkan justru berbalik mempermalukan kita sendiri sebagai orang tua. Ketika dilempar ke social media beribu tangan ikut nge-share, download, kita gak bisa menarik kembali, dan bisa jadi hingga anak dewasa. Sebagai penonton kita tak boleh juga spontanitas ikut membagikannya atau mendownloadnya tentu untuk membagikan ke grup  yang lebih kecil, seperti WhatsApp, BBM, Telegram. Jangan pernah beralasan bahwa itu cuma untuk di grup, yakin gak bahwa anggota grup nggak nge-share ke grup lainnya?!. Bagaimana jika yang ditertawakan itu adalah anak kita sendiri.


Baca juga : anak bunda bersifat tertutup mungkin inilah penyebabnya


Banyak juga yang sengaja apload ke YouTube saat anak terjatuh nyungsep , dan bilang itu lucu. Ada anak yang dikejar-kejar  hewan peliharaan sambil nangis-nangis dan orang-orang sekitar tertawa karena itu “lucu”. Mungkin bisa saja lucu karena sifatnya spontan dan tak terduga , tapi menurutku menjadi tak lucu kalau harus dipertontonkan ke socialmedia.

36 komentar

  1. Kita memang perlu memilah-milah mana yang boleh di share dan mana yang sebaiknya hanya untuk pribadi aja. Apalagi untuk hal-hal yang privat ya.

    BalasHapus
  2. Sharing menyangkut anak memang harus hati hati mba. Apalagi di era sosial media seperti sekarang. Mending kalo sosial media yang sekarang kita pake akan habis alias dihapus di masa depan saat anak anak dewasa, tapi gimana kalo masih ada dan si anak mampu menemukan jejaknya yang ngga lucu dan mungkin justru memalukan buat dia? Kasian anaknya jadinya

    BalasHapus
  3. Aih bener banget mbak.....saya masih dalam tahap berjuang neh mengurangi upload foto anak2 ke medsos...

    BalasHapus
  4. sosial media tuh ngeri sekarang. harus dipake dengan bijak kalo gak bisa kemakan sendiri.

    BalasHapus
  5. Iya, kadang ada hal-hal yang kita lucu itu justru menyakiti perasaan orang lain. Wah, harus hati2 betul ya kak mengunggah sesuatu di sosial media

    BalasHapus
  6. Ya ampun dek Hamid, kamu ih ... gemesin dan care banget sih.

    BalasHapus
  7. Iya ya mbak, emang harus pilih-pilih, kalau menyakiti fisik dan berkata kasar itu sama sekali gak lucu kan yak

    BalasHapus
  8. Harus hati2.. upload yang bagus2 saja, jangan yang lucu tapi ternyata gak lucu. Sperti anak kecil bisa merokok ada yang anggap lucu namun padahal tidak baik.

    BalasHapus
  9. Sepakat. Ga semua harus diupload di sosial media. Bener-bener harus dipilih ya Mba

    BalasHapus
  10. Saya kemarin termasuk orang yang gelisah dan gemes banget sama orang-orang yang nganggap video tentang otak nakal itu sebagai suatu hal yang lucu. Saya kasihan dengan si anak.

    Terima kasih sharingnya Bu Nova, artikelnya sangat bermanfaat.

    BalasHapus
  11. Betul, bijak bersosmed adalah kuncinya.

    BalasHapus
  12. iya betul. Maksudnya mau bikin sesuatu yang lucu tapi sebetulnya bikin malu anak. Biasanya kalau saya membayangkan dari sisi anak dulu. Dan mereka juga suka baca blog atau socmed saya. Jadi apa yang saya tulis memang sudah disetujui oleh mereka

    BalasHapus
  13. bener mbak mengingat anak adalah peniru ulung seyogyanya orangtua bijak memberikan teladan baik sikap dan lisan yang baik

    BalasHapus
  14. Setuju banget, mba. Kuatirnya lagi, pas anak udah gede lalu ada temannya yang browsing di internet lalu nemu foto yang nggk lucu itu dan jadi bahan bully :(
    Semoga kita terhindarkan ya

    BalasHapus
  15. iya, mbak. saya juga mikir-mikir banget biasanya kalau mau posting apa-apa tentang anak saya. sebisa mungkin posting yang nggak bikin dia malu nantinya

    BalasHapus
  16. Sekarang mah emang gitu mba. apa-apa dijadiin "sesuatu" biar viral. Sayang sih ya kalo gak bisa memilah-milah mana yang harus di uplod mana yang nggak.

    BalasHapus
  17. Pilah-pilih sebelum menulis status, ga semuanya harus dipamerkan di dunia maya. Terima kasih remindernya, Mbak.

    BalasHapus
  18. Kakak Hamid keren! Gemes juga nih jadinya.

    Sosial media sekarang jadi ajang pamer ya. Kita harus pintar memilah mana yang pantas dan mana yang tidak untuk dipublikasi.

    BalasHapus
  19. Saring sebelum sharing itu memang penting banget ya mbak.

    BalasHapus
  20. Saya kdang suka upload foto dan video anak2, semoga yg saya share msh dlm batas. :)

    BalasHapus
  21. ini cerita anak-anak aku semuanya, anak balita dan bayi. lucuuu. cuma ya, ga semua mau aku kabarin ke dunia

    BalasHapus
  22. Wuah, kalo yang itu parah banget
    Gak habis pikir deh sama ibunya. Video itu belum sampe ke aku mbak. Tapi udah banyak orang yang negur Ibu itu kan ya... Alhamdulillah, semoga Ibunya segera dapat hidayah

    BalasHapus
  23. Harus pinter" ya mbak menggunakan sosmed. Disatu sisi berdampak positif dn juga sebaliknya. Makasih sharingnya mbak

    BalasHapus
  24. Jadi inget kedua anakku yang masih balita, mereka udah jago ngeles hehehe...memang bener sih, kadang menurut orang dewasa lucu sebenarnya nggak lucu bagi anak-anak karena mungkin tingkah-tingkah itu adalah bentuk perlawanan mereka terhadap dunia dewasa yang mengekang mereka

    BalasHapus
  25. Sharing sesuatu hal yang lucu dari buah hati memang sangat menyenangkan namun harus hati-hati juga ya.. jangan sampai menshare sesuatu yang jadinya mempermalukan anak Kita atau menyebarkan sesuatu yang tidak pantas untuk diketahui orang..

    BalasHapus
  26. Klau ngomong sama anak kduu ati2 emang ya mbak, soalnya mereka tu cepat banget mencerna dan meniru jdnya kudu pakai bahasa sederhana tapi serius jg gtu TFS mengingatkan :)

    BalasHapus
  27. Saya juga punya beberapa teman yg berstatus sbg mamah muda yg hobi merekam kegiatan anaknya dalam bentuk cerita, foto, atau video. Untungnya semua masih dalam batas kewajaran. Saya sendiri masih bisa memaklumibahwa apa yg dilakukan oleh para ibu muda tsb adalah ungkapan takjub mereka thd anugerah Tuhan berupa anak yang lucu pada mereka.

    BalasHapus
  28. saya sering juga memposting obrolan lucu dengan anak yg sedang ceriwis banget
    tapi untuk memposting video yg dianggap lucu tp sebenarnya "menelanjangi" anak belum pernah.
    meski anak kita kecil. suatu hari dia akan lihat
    tentu dia akan merasa gimana
    bisa jg nanti video itu akan jd bahan olok olok temannya
    jadi ya postinglah yg benar benar lucu dan menghibur

    BalasHapus
  29. Orang tua juga jangan pernah malu untuk bertanya atau belajar gimana cara mendidik anak, selain nanti bermanfaat untuk kita, bermanfaat pula untuk yang di sekitar.
    era teknologi tetap ga bisa kita bendung, tapi bukan berarti kita ga bisa ngarahin ke sisi postif,
    Misal kalo ada teman yang suka rekam yang ga pantas ya di ingetin, ato diri kita sendiri yang harus di arahkan, jangan pula terbalik, sampe dukung share like,

    BalasHapus
  30. Bener banget, aku sangat pilih2 jg apa yg di post di sosmed tentang anakku. Karena itu berbekas. Aku takut mereka melihatnya saat dewasa dan sedih kenapa ibunya begitu tega mempublish itu

    BalasHapus
  31. Hihihi apa hubungannya sama demam ya dik? Bener sekali mbak krn jaman sekarang darurat privasi jadi kita sendiri yg harus pandai memiliah mana yang jadi konsumsi sendiri atau dibagikan ke orang lain. Kalau bisa sih yg dishare yang bermanfaat aja kaya mungkin tips begitu yak :3

    BalasHapus
  32. Setuju banget nih sama tulisan Kak Nova. Ceritanya tentang dek Hamid ini sebenarnya menurutku memang dasarnya lucu dan menggemaskan, karena ya, disampaikan oleh anak kecil yang masih polos dan baru menyerap informasi ibarat sebuah spons gitu. Namun, ya, memang tidak seharusnya hal dianggap lucu bagi kita, dapat diartikan lucu juga oleh orang lain. Ya, misalnya, kejedot pintu atau misalnya kelilipan semut. Itu beneran, kadang kita menertawakan anak kecil menangis. Aku sendiri kadang kalo nonton video momen "kelucuan" anak itu, malah kadang terasa iba gitu. Membayangkan sakit yang mereka dapatkan dan justru bukannya dimintai pertolongan, malah ditertawakan. Huft

    BalasHapus
  33. Anak anak jadi kotban deni rating dimedia sosial yak. Duh! Mudah3an banyak Obundan ayah yang sadar bahwa semua unggahan ttg kehidupan keluarga harus disaring. Apalagi jaman sekarang gampang banget dengan tombol share. Kesian kalau viral kan ya

    BalasHapus
  34. Media sosial memang seringkali bikin tangan gatel untuk share ini-itu. Makanya ya harus hati-hati banget kalau mau melakukannya. Apalagi video/foto anak, kudu dipikir mateng-mateng dulu.

    BalasHapus
  35. makasih sudah diingatkan, harus lebih berhati-hati lagi share foto atau apapun tentang si kecil

    BalasHapus
  36. Setuju mba.. Hal2 yg sbnrnya mungkin memalukan buat si kecil , sebaiknya jgn diupload. Aku aja suka kesel kalo mama kdg upload fotoku pas bayi yg bikin malu menurtku.. Makanya aku jg ga pengen share foto anakku yg sdg dlm kondisi ga baik :). G pgn juga mereka nantinya malu

    BalasHapus

Terimakasih atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya di sini yach...:), Tidak terima komentar spam dan komentar mengandung Link,brokenlink , dan harus menggunakan nama semestinya , anonim dan merk tidak akan diterbitkan.