Broken Strings dan Luka yang Tidak Terlihat. Apakah teman-teman sudah membaca e-book Broken Strings, Kepingan Masa Muda yang Patah ? Penulisnya Aurelie Moeremans yang kita kenal seorang aktris dan bintang iklan juga. Ia menulis dengan naratif pengalaman pahit pribadinya pada masa remaja usia 15 s.d 18 tahun. Dia dijebak oleh pria NPD yang sangat manipulatif memanfaatkan ketidakberdayaannya.
Aurelie menulis ini sebagai
bentuk dan bukti dirinya sudah sembuh. Tidak untuk menyerang pelaku, atau siapaun nama yang disamarkan didalamnya tetapi berbagi pengalaman
untuk ibu dan para gadis untuk peduli dan sadar bahwa orang – orang seperti
pelaku harus dihindari dan diwaspadai. Dan ada yang beberapa teman yang meminta maaf "Kelly" setelah membaca ebooknya. Dan mendapat reaksi dari pelaku yang merasa tidak nyaman, dan please jangan kasih panggung sih menurut aku, apalagi dia mau minta ke podcast ( NPD emang suka perhatian ya).
Ebook tidak bersifat komersil dan
bisa diunduh gratis, bisa akses melalui link
instagram Aurelie dan Tiktok. Sedih sekali rasanya membaca potongan
kisah Broken Strings . Aku sudah mengunduhnya tetapi belum kuat baca , tapi aku
sudah melihat beberapa potongan halaman mungkin cari waktu yang pas untuk baca,
dan dipastikan banyak jeda dalam membacanya menunggu hati ikut tenang
Ada rasa sesak yang sulit
dijelaskan, karena yang disajikan bukan sekadar cerita, melainkan potret
bagaimana masa muda seseorang bisa direbut perlahan tanpa disadari, melalui
sesuatu yang pada awalnya terasa seperti cinta, perhatian, dan perlindungan.
Itulah yang membuat kisah ini begitu menyakitkan, karena kejahatan di dalamnya
tidak datang dengan teriakan atau pukulan, melainkan dengan kata-kata lembut
dan rasa aman palsu.
HATI-HATI CHILD GROOMING
Child grooming adalah salah satu
bentuk kekerasan yang paling berbahaya karena ia tidak terlihat seperti
kejahatan. Ia dibangun melalui kedekatan emosional, melalui percakapan yang
intens, melalui pujian, perhatian, dan kehadiran yang membuat korban merasa
dipahami dan dibutuhkan. Seorang anak yang sedang tumbuh, yang masih mencari
jati diri dan rasa diterima, sangat mudah terikat pada seseorang yang
membuatnya merasa spesial. Di titik inilah pelaku mulai menanamkan pengaruh,
membuat korban percaya bahwa hubungan itu adalah sesuatu yang istimewa dan
harus dijaga. Tapi ujung-ujungnya pelaku memanfaatkan rasa percaya itu untuk
kepentingan egonya.
Harus disadari oleh banyak orang tua dan masyarakat
adalah bahwa hubungan berbahaya hampir tidak pernah dimulai dengan hal yang
kasar. Justru ia dimulai dengan sikap yang terlihat baik, perhatian yang
konsisten, dan sikap seolah-olah pelaku adalah satu-satunya tempat aman bagi
korban. Pelaku membuat korban merasa bahwa hanya dia yang benar-benar mengerti,
hanya dia yang peduli, hanya dia yang bisa memberi cinta. Perlahan, korban mulai
bergantung secara emosional, dan ketika ketergantungan itu sudah terbentuk,
manipulasi menjadi sangat mudah dilakukan.
Dalam banyak kasus, pelaku
grooming memiliki pola kepribadian yang mirip dengan NPD atau perilaku
narsistik. Mereka mahir membaca kebutuhan emosional orang lain, lalu
menggunakannya untuk membangun ikatan yang kuat. Mereka memberi perhatian di
awal secara berlebihan, membuat korban merasa sangat dicintai, lalu pelan-pelan
mulai mengontrol, menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, bahkan
memutarbalikkan kenyataan sehingga korban merasa bersalah jika ingin menolak
atau menjauh. Di sinilah hubungan menjadi jebakan, bukan lagi ruang aman.
TINDAKAN MANIPULATIF BISA TERJADI PADA WANITA DEWASA
Pola Grooming ini tidak hanya
terjadi pada anak di bawah umur. Banyak perempuan dewasa, bahkan istri dalam
pernikahan, mengalami hal yang sama. Mereka diperlakukan dengan sangat baik di
awal, diberi rasa aman, cinta, dan perhatian, lalu ketika sudah terikat,
pelan-pelan dimanfaatkan, entah untuk kepentingan seksual, finansial, atau ego
pelaku. Karena ikatan emosional sudah terbentuk, korban sering merasa tidak
punya kekuatan untuk pergi, merasa takut kehilangan, dan merasa bersalah jika
menolak.
Broken Strings mengingatkan kita
bahwa hubungan yang merusak tidak selalu terlihat jahat dari luar. Ia sering
dibungkus dengan romantisme, dengan kisah tentang cinta, dengan narasi tentang
pengorbanan. Padahal di dalamnya, ada ketimpangan kekuasaan, ada manipulasi,
ada eksploitasi. Ketika anak atau perempuan dewasa diajari bahwa cemburu dan posesif
adalah tanda cinta, bahwa perhatian berlebihan adalah bentuk kasih sayang,
mereka menjadi lebih rentan masuk ke dalam hubungan yang berbahaya.
Inilah mengapa pacaran anak di bawah usia 19 tahun dengan pria dewasa tidak boleh dinormalisasi. Ini bukan soal membatasi kebebasan, melainkan soal melindungi perkembangan psikologis dan emosional mereka. Anak-anak belum memiliki kematangan untuk mengenali manipulasi, mereka mudah percaya dan mudah terikat. Ketika masyarakat membiarkan atau bahkan memaklumi hubungan seperti ini, kita sebenarnya sedang membuka pintu bagi kejahatan yang lebih besar.
Perlu kita jelaskan pada
anak bahwa bukan hanya tentang bahaya
fisik, tetapi juga tentang batasan emosional. Mereka perlu tahu bahwa cinta
yang sehat tidak meminta rahasia, tidak menuntut pengorbanan berlebihan, dan
tidak membuat mereka takut kepada orang tua. Orang tua pun perlu lebih peka,
lebih mau mendengar, dan tidak meremehkan kedekatan anak dengan orang dewasa di
luar keluarga inti.
Broken Strings bukan sekadar kisah pribadi, ia adalah peringatan bagi kita semua. Bahwa perhatian bisa menjadi jerat, bahwa cinta bisa dipalsukan, dan bahwa kejahatan paling berbahaya sering kali datang dengan senyum dan kata-kata lembut. Semoga semakin banyak orang tua dan anak yang menyadari hal ini, agar tidak ada lagi masa muda yang patah sebelum sempat tumbuh. Dan tetap berhati-hati pada segala situasi bahwa manusia manipulatif itu ada disekitar kita.
.png)

Posting Komentar