-->
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

RINDU DITEPI PUSARA *sebuah puisi rindu*

sumber foto : Koleksi Pribadi
Sayang menggenang disudut hati?
Katakanlah.....
Debar cinta menggetar jiwa,,?
Sampaikanlah..
Greget rindu mengharu biru..??
Temuilah..

Banyak sayang terbuang..
Berjuta cinta tersia sia..
Beribu rindu nan berlalu..

Sesal
Terdesak antara waktu dan takdir
Cinta Rindu menjadi lara
Ketika diungkap ditepi pusara ;(
-----------------
Jangan malu ungkapkan cinta pada suami atau istri, jangan gengsi jangan malas... Tak hanya pada pasangan juga pada keluarga dan sahabat tunjukkan cintamu... Karena kita tak pernah tahu..
Jika...
"saat itu tiba..."
derai air mata takkan mengembalikan sesuatu yang telah diambilNYA..

kekosongan hati  yang dirasa (karena kehilangan org yng dicintai) dan rasa rindu tak bertepi akan melukiskan luka, hanya waktu kan memulihkannya..tanpa kita tahu kapan itu.

so.. Heiiiiii..... I love you......, I miss You....!!!!!
:)
ini cintaku. Mana cintamu?
Nova Violita

Kejutan Tak Terduga



Siapa ya?!
Lisa mempercepat langkahnya, tiba-tiba rasa takut menyergap, debar jantungnya pun semakin tak beraturan, belum pernah ia diikuti oleh orang tak  di kenal seperti ini, ia memberanikan diri menoleh kebelakang, dia melihat sosok yang mengikutinya, sekilas yang dilihat malah tersenyum kepadanya.
Degh!
Kini bukan jantungnya saja yang berdegup, tapi kakinya juga menjadi lemas. Siapa sih cowok itu, bersepatu, berjaket hitam dan ransel dipunggung itu, bertopi dan mengenakan kaca mata hitam itu, apa maksudnya mengikuti ku seperti ini, duh... Mana jalanan sepi lagi , jangan-jangan punya niat jahat lagi .Semakin dipercepat langkahnya, dan sekarang setengah berlari. Sial , di lihatnya pria itu ikut berlari-lari kecil mengejarnya.

Siang menjelang sore, matahari cukup terik, jam-jam seperti ini, jalanan komplek memang sepi, karena jam-jamnya orang-orang pada tidur siang atau beristirahat dirumah.  Jam 2 siang, perutnya terasa makin lapar di tambah dengan rasa takut, di pegangnya perutnya yang makin keroncongan itu. Nafasnya mulai terengah-terengah, di tolehnya pria di belakang, masih mengikutinya, dia tidak bisa  melihat jelas siapa pria yang menguntitnya, sejak turun dari angkot di halte depan, memang pria itu menjaga jarak dari nya.

Sedikit mengangkat rok SMAnya yang panjang, agar lebih leluasa melangkah, semakin di percepatnya langkah, sekali lagi di tolehnya pria itu. Kali ini pria itu terlihat jongkok membenarkan tali sepatunya yang lepas dengan posisi kepala menunduk.
Yes! Lisa bersorak dalam hati..
Ini saat yang tepat untuk bersembunyi.
Ya..di pengkolan depan ada bak sampah, dan sebatang pohon mangga, itu tempat  yang pas untuk bersembunyi. Hanya sepuluh langkah. Lisa langsung jongkok di pojokan bak sampah,dan menunduk dalam-dalam. Jantungnya makin berdebar, apa lagi suara langkah terdengar makin dekat. Di pasangnya telinga baik-baik.
Tapi..kok sepi..
Oh.. pasti sudah lewat....
Hhhf...ia menarik nafas lega, tapi belum sempat mengangkat kepalanya.
Plak!
Auuuu!!!!
Sebuah pukulan mendarat di bahunya, Lisa berteriak histeris
"Hei! Ngapain kamu disini.... Pipis sembarangan ya!?" Suara berat menegurnya..
"Nggak! Nggak! Saya ga pipis....!!"
Suara lisa bergetar penuh rasa takut, kepalanya tetap menunduk..
Kemudian ia memberanikan diri  berbalik menghadap pria yang menepuk pundaknya.
Aaaaaa!
Lisa kembali berteriak kaget , menyadari pria yang dihadapannya adalah pria yang menguntitnya. Lisa melompat kebelakang, Tapi sayang kaki kanannya, tersandung batu, dan iya kehilangan keseimbangan.
Tapi..
Hap!
Pria itu cepat menggapai tangan lisa, menarik menahan agar Lisa tak terjatuh.
"Jangan! jangan! Ampun jangan ganggu saya.." Lisa menggigil
"Ha ha ha.....!!!"
Pria itu terpingkal-pingkal, tertawa lebar...
Lisa mengerutkan kening...
Lalu pria itu..membuka topi, dan kaca mata hitamnya..
"Ya Ampun..!!! Mas Haris!!" kali ini Lisa berteriak .senang, mas haris adalah kakak kandungnya yang kerja di Jambi, yang telah delapan bulan tidak pulang.
"Mas...Haris ngapain..sih.... Ngikutin aku, mas kapan pulang....???" Seraya menggenggam tangan kakaknya itu, dengan bahagia.
"He-he, tadi ketika di halte  Mas mau manggil kamu, tapi ketika Mas ikuti kamu seperti orang takut, ya kukerjain sekalian hahahahah" Haris tertawa puas..
"Ih..mas jahat !! tadi itu aku hampir pingsan karena kaget tauk!!"
Sambil menjewer telinga haris..
"Oh...berani kamu ya....he." haris mencubit hidung adiknya itu.
"Ampun....ampun...sakit tauk" Haris melepas cubitannya.
"Ya sudah... Sekarang mending kita pulang, laper..."
"Iya nih...perut kakak juga keroncongan...."
 
***
Ha..ha. .ha
Ibu Tono terkikik, mendengar cerita Putri bungsunya, bahwa telah di kerjai oleh Haris, Putra pertama nya itu.
"Ya..sudah sekarang kalian ganti baju dulu...., cuci muka...mari kita makan siang, Ibu juga dah laper..nunggu kalian dari tadi.."
"Ah..ntar aja ganti bajunya bu...Lisa udah laper...gemetaran nih..."
"He he iya  bu...., aku kekamar mandi dulu cuci muka, kemudian langsung makan ya...."
"Loh.... Ibu banyak banget masaknya.., enak lagi...." Lisa kaget melihat makan siang ada beberapa menu.
"Ibu sudah tau Mas mu bakal  datang hari ini, Makanya ibu masak yang spesial.."
"Kenapa ibu gak beri tahu...kalau Mas Haris Pulang hari ini....?" Lisa protes.
"Aku yang larang ibu , agar  tidak memberi tahu kamu dulu...."
Haris keluar dari kamar mandi, setelah memcuci  wajah, tangan dan kakinya yang kotor oleh debu. Maklum perjalanan Jambi Pekanbaru  cukup jauh.
"Sukses.. Ya...?? Semuanya mengerjai aku hari ini...." sambil meneguk Es sirup kesukaannya.
"Yukk...sekarang kita makan dulu..., setelah ini..."
Ibu Tono..tak melanjutkan kata-katanya...
"Setelah ini apa bu.....?"
"Dah.. Makan dulu, cerewet kamu.." Haris memotong bicaranya..
Lisa bersungut-sungut cemberut manja. Ibu Tono hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya.
Kemudian Hening,
Keluarga kecil itu ..begitu menikmati makan siang mereka dengan lahap, tanpa suara...hanya diselingi lirikan dan senyuman. Mungkin mereka begitu lapar dan terlambat makan siangnya.
Dalam hening, Lisa bersyukur memiliki Kakak dan ibu yang menyayanginya, dan kebahagiaan ini begitu kurang lengkap tanpa kehadiran  Ayah. Tapi Lisa, tak bisa protes...karena Ayah takkan pernah kembali selamanya akibat penyakit paru yang  derita ayahnya, dan wafat setahun lalu.
Tak terasa air matanya mengalir...dan terisak.
Kakak dan ibunya kaget.
"Kenapa kamu Lis...., apa masakan ibu terlalu pedas..?"
"Atau perut kamu sakit...??!" Haris menimpali.
Lisa menggeleng dan menyudahi makannya dan berlari kekamar
Langsung membenamkan wajahnya ke bantal, dan menangis tersedu-sedu.
Haris berdiri untuk menghampiri adiknya itu, tapi Ibu tono memberi isyarat agar ia melanjutkan makan siangnya.
"Biarkan saja..., Lisa memang suka begitu, biar  ibu saja yang menenangkannya.."  Ibu Tono beranjak menghampiri
Dibelainya dengan lembut kepala Lisa yang tertutup kerudung putih.
"Lis... Kamu kenapa menangis, apa kamu marah karena telah kami kerjai?"
Lisa mengeleng...dengan wajah masih tertutup bantal.
"Lalu apa? "
Lisa mengangkat wajahnya, dan duduk menghadap ibunya di tepi tempat tidur.
"Ingat ayah, bu...." mengusap pipinya yang basah.
Mata bu Tono berkaca-kaca..
"Lisa ingat ayah bu, kangen sekali., seandainya ayah ada... Sungguh lengkap hari ini"
"Iya... Ibu juga kangen, malah tiap hari lagi.., tapi Allah lebih sayang sama ayah...., kita mesti sabar dan ikhlas nak...." bu tono terisak dan menutup wajah dengan kedua tangannya. Lisa jadi merasa bersalah telah membuat ibunya menangis, andai saja dia tidak memulai tentu ibu tak akan menangis.
"Maaf kan Lisa bu, Lisa tidak bermaksud membuat ibu sedih." Lisa memeluk ibunya, Bu Tono mengangguk dan membalas pelukan Lisa. 
"Kamu sih Yang mulai...." Haris masuk ke kamar Lisa
"Lisa Kangen ayah mas....."
"Kita juga kangen kok..., tapi kita mesti sabar dan ikhlas, atas takdir yang digariskan pada kita..."
"Iya..mas, Lisa akan ikhlash.."
Haris memeluk Lisa, dan ibunya...., mereka bertiga berpelukan penuh cinta.


"Oh iya, ibu ada sesuatu untuk mu... Lis.."
"Apa bu......??"
"Sebentar.." Ibu haris keluar  menuju kamarnya.
"Aku juga ada sesuatu untuk mu" Haris ikut-ikutan..
"Apa sih..., jadi penasaran.?"
"Bentar ya..." Haris  menuju ruang tengah dan mengambil Ransel, yang dia letakkan begitu saja ketika ia datang tadi.
"Ih...Kompak banget ibu dan anak ya...? Jangan-jangan aku di kerjai lagi nuh..." Lisa curiga.

"Taraaaaa....." Bu Tono datang dengan sebuah kado berwarna merah jambu, sedikit  pita kecil menghiasi..
"Selamat hari lahir...ya nak..., semoga makin dewasa dan lebih bijaksana"
Lisa terdiam hening, sedikit kaget.
"Ahai!.. Aku juga punya sesuatu untuk kamu" Haris mengeluarkan bingkisan segi empat dari ransel besarnya., terbungkus dengan kertas kado berwarna biru.
"Met ultah ya...penakut..." Haris lagi-lagi mencubit hidung adiknya..
"Aduh! Ngasi kado tapi nyubit , sakit tau,"
Ibu tono tersenyum melihat hidung Lisa yang memerah.
"Ibu, mas Haris, terima kasih kadonya..., ku pikir ibu lupa dengan hari ini, dan aku,sengaja tidak mengungkit-ngungkit hari ini , karena tak ingin merepotkan" Mata Lisa mengembun lagi..
"Mana mungkin kami lupa...jelek."
Di sambut anggukan bu Tono.
"Sekarang buka dong..kadonya, apa kamu tak ingin melihat isinya...."
"Ih... Mau...donk bu..."
Lisa buru-buru membuka kado pemberian ibu nya.
Sebuah Mukena Cantik berwarna putih dengan sulam bunga-bunga,
"Ya..ampun bu... Bagus sekali makasih ya....,"Lisa mencium pipi ibunya.
"Syukurlah kamu suka, ibu harap kamu lebih rajin sholat, doakan ayah mu..."
"Iya...bu, apa ibu lihat Lisa pernah  ga sholat....??"
"Iya...iya.. Ibu tau."

"Sekarang buka kado dari aku donk..."
"Iya...iya... Sabar ngapa sih., waw...berat sekali, emang apa isinya kak.. Cor-coran semen ya atau batu bata?"
"Idih...tega nian dirimu menuduh ku seperti itu, makanya buka donk..., biar tau...."
"Waw... asyik” sebuah Note Book berwarna biru gelap , kini telah berada ditangannya.
Lisa melonjak girang.
“Terimakasih ya mas.....”
‘Iya... , tapi kamu mesti rajin belajar....”
“Oke..aku janji deh....”
“Awas...klo nggak..”
“Iya..iya.., ah!!”
“eh... kok jadi judes...”
“Biarin..weeeek....” Lisa menjulurkan lidahnya..
“Husss...kok malah berantem, kalian itu kakak adik harus rukun, ayah sudah tidak ada, kalau ibu tidak ada juga, bagaimana? Apa kalian musuhan? “ Ibu Tono menengahi.
“Nggak kok bu..Cuma becanda”
“Hmmm....” Haris mengejek..
“Oke deh... minta maaf, maafin ya kak...terimakasih hadiahnya, akan Lisa jaga dengan baik..” Lisa  memeluk Haris, Haris membalas pelukan adiknya, melihat itu Ibu Tono  ikut mmeluk keduanya, Mereka tersenyum bahagia penuh kehangatan.
Lagi-lagi Mata Lisa berkaca-kaca, Andai saja Ayah masih ada kebahagiaannya makin lengkap, Apalagi Note Book adalah hadiah yang pernah dijanjikan Ayahnya.

“Nanti ketika kamu berusia 17 Tahun, Ayah akan belikan kamu Laptop kecil”
“Kenapa mesti tunggu 17 tahun yah.., kelas satu sma juga butuh Laptop”
‘Iya.. tapi sekarang ayah belum punya uang, kamu sabar ya...”
‘Hmmm gitu ya..., oke lah..pak Hartono, S.Pd” Lisa bergelayut manja di lengan ayahnya

Mengalir air mata Lisa mengenang hal itu, semakin kuat rindunya pada Ayah. Tapi dia memendamnya dalam hati, dia tak ingin Ibu dan mas Haris tahu, takut membuat mereka sedih.
Dia hanya tersenyum dan bahagia dalam pelukan mas Haris dan Ibunya. Sungguh dia tak menduga akan mendapat hadiah dari keluarganya.

(SELESAI)

By:
Nova Violita ;)

Cinta diantara Hujan dan Senja.





Hujan belum juga reda..
Senja berangsur menurunkan tabirnya dan menyelipkan kegelapan disana..
Diantara remang lampu, tampak sosok wanita  berjalan dengan langkah cepat setengah berlari,  menyusuri gang, sesekali menyeka air mata yang disamarkan oleh air hujan yang mengalir diwajahnya. Sepertinya ia ingin cepat sampai dirumah.

"Assalammu'alaikum" sambil membuka pintu yang tak terkunci
"Wa'alaikumsalam nda...ya ampun sampai kuyup begini" seorang pria menyambutnya dengan rasa khawatir
"Sebentar nda.. jangan masuk dulu" lanjutnya, lalu buru-buru mengambilkan handuk, dan kembali.  "Kok..tadi gak nelpon, biar dijemput, didepan gang, nanti di bawakan payung" pria itu berujar sambil mengelap wajah wanita itu dengan penuh kasih
"Ah.. Kan dekat mas, cuma 200 meter "
"Tapi kan.. jadi kuyup gini.., kalo sakit bagaimana? Eh..kamu nangis ? " dia menatap mata wanita itu lekat-lekat.
"Nggak ko mas..., hujan kan deras..mataku jadi perih merah gini.., hmm aku  kekamar mandi dulu ya.." ujar wanita itu menghindar
"Baiklah sayang..langsung mandi ya..aku bikinkan teh anget buat kamu, setelah itu kita sholat maghrib berjamaah ya?" ujarnya tersenyum.
"Iya mas..terimakasih ya" wanita itu ikut tersenyum, da mengambil handuk dari tangan suaminya.

***
Kini senja telah lewat, malam pun kian larut seiring bergulirnya waktu, dan hujan belum juga reda
Ditatapnya lekat-lekat Pria yang terlelap tidur disampingnya, nyenyak sekali , dibelainya rambut pria itu..

***
"Hai Lena, sudah lama ?"
"Baru saja kak...kak Rino, ke sini naik apa..?"
"Taksi.., mobilku mogok ,jadi kita naik taksi saja ya...?"
"Baiklah.."
"Yuuukk.." Rino memeluk bahu perempuan itu menuju taksi yang sudah menunggu.
"Kita mau kemana sih Kak?"
Tanya perempuan itu setelah dalam taksi.
"Ketempat spesial lah....kita akan rayakan , 3 bulan pertemuan kita"

"Ah.. Kak Rino, bisa saja.... Kita ini sudah tua..bukan anak SMA lagi loh.." terkikik geli perempuan itu...

Rino, kakak kelasnya merupakan ketua Osis di SMA nya dulu, banyak cewek-cewek disekolah mengidolakan kegagahan dan kepintarannya, dia termasuk seorang cewek yang beruntung, karena Rino telah memproklamirkan dirinya sebagai pacar. Betapa bangga dan bahagianya dia kala itu.
Tapi sayang, mereka terpisah. Rino setelah lulus, ia pindah ke Kalimantan ikut pamannya . Dan komunikasi mereka terputus.
Dan setelah 12 tahun berlalu, kini mereka dipertemukan kembali, disaat semuanya tak seperti dulu, disaat Lena tak lagi sendiri. Namun debar-debar yang mereka simpan ketika SMA kini masih memiliki getaran yang sama. Dia begitu menyukai perhatian dan kebaikan-kebaikan Rino atas dirinya.

"Nah..yukk kita turun, dah sampai"
"Dimana ini kak..." Perempuan itu mengedarkan pandangan disekelilingnya.
"Udah...kita turun dulu.."
"Ini dimana...?" mereka telah sampai di sebuahh Villa mungil, dengan halaman yang luas
"Ini adalah Villa salah satu kerabat ku, biasanya mereka kemari tiap liburan anak sekolah, karena kosong kita memanfaatkannya. Tenang saja aku telah persiapkan semua"
"Yuk masuk.... Ayooo..."
"Loh kok malah bengong ayo masuk" tambah pria itu lagi..
Lena agak ragu melangkah.
"Nah..bagaimana nyamankan villanya...." Lena mengedarkan pandangan sekelilingnya, sepi. Dia hanya diam saja dari tadi timbul was-was dihatinya.
"Nah..nanti malam kita nginap dikamar itu, dan besok pagi kita baru pulang" Ujar Rino sambil bersandar di sofa.
Degh!
"Apa menginap?!" kaget lena mendengarnya..
"Iya..menginap , kita senang-senang malam ini" Rino bangkit menuju kulkas mengambil soft drink.
"Tidak bisa kak, sore ini saya mesti pulang!" Tegas Lena
"Suamiku pasti sudah menunggu ku..." tambahnya..
"Alah.... Kamu tinggal telpon suami kamu, dan beri alasan, kamu mesti menginap di rumah sari atau teman lain...bereskan!? Lagian aku yakin suami mu yang begok itu, pasti percaya kok"
"Kak Rino! Jaga omongan ya!"
"Kenapa? " sambil menuangkan minuman kegelas, dan memberikannya ke Lena.
"Suami ku ga bego" minum satu tegukan dan memegang gelas dengan gundah.
"Ha ha ha.." Rino tertawa keras
"Kenapa Tertawa..?"
"Ah tidak...kita istirahat dulu yuk, kamu pasti capekkan?" Rino menggeser duduknya mendekati Lena.
"Atau kita mandi dulu..., berdua di bawah shower itu enak loh" Rino mengerling nakal dan merangkul pundak Lena.
Lena menepis , tangan kekar Rino.
"Kenapa Len...? bukankah kamu merindukan saat-saat begini, menikmati waktu yang hanya kita berdua? Memadu kasih...menikmati malam..menyelesaikan pelukan-pelukan kita dulu  yang telah lama tertunda?"
Jijik Lena mendengarnya, tiba-tiba rasa suka nya pada Rino  berubah jadi benci yang amat sangat.
"Maaf Kak.., aku tak pernah berpikir sejauh itu, lebih baik kita pulang sekarang, lagian diluar mendung. Takut kita terjebak macet, dan pulang terlalu malam" Lena berusaha tenang.
"Pulang? Tidak..kita baru pulang besok, bukannya asyik jika mendung lalu hujan  berderai..., dan butir-butir kerinduan kita ikut mengalir  bersama malam yang banjir dengan hasrat kita?"
Makin Merinding Lena mendengarnya, tak percaya seorang Rino, punyaa niat dan rencana sekotor itu.
"Oke! "Lena berdiri mengambil Tasnya..
"Kalau kakak tidak mau mengantar pulang, saya bisa pulang sendiri kok permisi."
"Oups..!!" Rino merentangkan tangan
"Tidak bisa!! Kamu boleh pergi dari sini setelah kita menyelesaikan hasrat kita" ujarnya

Lena menggigil ketakutan, berusaha mendorong tubuh Rino, tapi tubuh lelaki itu begitu kuat. Kemudian Rino mendorong tubuh Lena dengan kasar hingga tersandar ke sofa.
 Lalu memeluk paksa Lena, Lena meronta berusaha melepas pelukan Rino yang bersiap menciumnya, dan melepas kancing bajunya.
Plak!!
Lena menampar Rino, Rino semakin bersemangat. Dan Lena pun mencoba menendang bagian bawah Selangkangan Rino. Lelaki Bejat itu terjengkang  dan menahan sakit. Kesempatan itu digunakan Lena untuk Lari keluar, disaat itu hujan mulai turun...
Dia berlari dan menangis sampai ujung jalan, ternyata taksi yang di tumpangi masih mangkal disana, supirnya istirahat dan minum kopi di warung dekat sana. Lena pulang dan sejadi-jadinya menangis. Supir taksi hanya diam, melihat Lena seperti itu dia faham apa yang terjadi.

Dalam kelunya ia terbayang Mas Hendra yang menunggunya di rumah. Seorang lelaki penyayang , penyabar yang begitu amat mencintainya, 
 yang telah menikahinya 3 tahun lalu. Ah... Begitu bodohnya Ia, mau menerima Rino mengisi  hari-harinya beberapa bulan ini, teleponan, smsan, bahkan berjanji bertemu di suatu tempat, tapi di pastikan sekedar makan, atau nonton saja. Tak terpikirkan olehnya akan terjadi hal ini. Rino lelaki Bejat tapi aku juga salah  kenapa aku mau, kenapa aku membuka peluang? Padahal Cinta suamiku telah mencukupi.

"Mas..tadi Sari meneleponku, dia ngajak ketemuan dan ingin menteraktirku, mungkin aku pulang sore"

"Ya sudah...tapi kalu bisa pulang jangan terlalu sore ya..., hati-hati dijalan kalau ada apa-apa telepon mas ya.., mas takut terjadi apa-apa dengan dinda, mas sayang dinda" ujar lelaki itu serambi mengecup kening Lena

"Iya mas..., Lena juga sayang mas kok"

Ah...!! Ingin rasanya dia mengambil palu dan memecahkan kepalanya, biar makin bodoh.
Begitu jahatnya ia pada mas Hendra. Kenapa ia begitu nekat membohongi seorang yang begitu menyintainya.
Mungkin ini Hukuman karena telah berbohong kepada Suaminya.
tergugu Lena dalam tangisnya...dan terisak-isak menyesali perbuatannya..hingga air matanya mengalir deras dan menetes ke wajah Hendra, dan membangunkan pria yang terlelap itu.

"Loh!, apa ini... Kamu kenapa sayang..kok nangis, kamu belum tidur? Kamu sakit nda....?" Hendra bangkit dan duduk memeluk Lena

Lena makin menangis...
"Ada apa sayang? "Hendra bingung serambi mengelap air mata wanita yang amat dicintainya itu.

"Maafkan Dinda Mas...." bisiknya lirih..
"Kenapa mesti minta maaf..?" membelai rambut lena.
"Tadi Dinda bulang senja..., dan mas menunggu dinda dengan rasa khawatir" Lena terisak.
"Gak apa sayang..., ketika mendung tadi mas takut kamu kehujanan, lalu mas berdo'a.. Ya Tuhan  jaga istriku ya.. Aku takut istriku kenapa-napa..yah..tapi do'a nya gak makbul. Kamu pulang malah mandi hujan gitu..."
Makin terisak Lena mendengar itu, dia yakin dia selamat dari nafsu kotor Rino itu berkat do'a suaminya.
"Kenapa sih...kamu jadi sedih begini..?"
"Ntah lah, tadi dinda sempat berfikir bagaimana kalau kita terpisah?"
"Sssst.... Sudah jangan berpikir macam-macam, malam sudah larut..bagaimana kalau kita tidur..takut besok kesiangan subuhnya" Hendra merangkul merebahkan tubuh Lena, dan memeluk rapat tubuh istrinya itu.
"Ayo..tidur, pejamkan matanya.."
"Gak bisa merem"
"Kenapa sayang.."
"Di luar hujan deras berisik..."
"Terus..?"
"Terus apa....?
"Terus..apakah kita harus menciptakan suara-suara berisik juga dikamar ini agar suara hujan di luar menjadi samar hmmm...??" Hendra mengerling nakal
"Maksudnya...?" Lena masih tidak mengerti
"Maksudnya....."
"Au..!!! Mas apa-apan sih...geli tau"  Hendra Terus menggelitik pinggang Lena.. Hendra tertawa lepas melihat istrinya kegelian.
"Mas geli tau....!!! Au...!!! iya..iya... sekarang tidur....” Ujarnya menyerah.
"ha ha...manjur...sini tidur.. Mas peluk yah.."
"He..eh.." Lena manja,serambi mencium kening suaminya
Ah...akhirnya hatinya bisa tenang juga ..dan bersyukur..Tuhan telah menyelamatkannya, tak terbayangkan apa yang terjadi jika malam ini ia masih bersama Rino. Mungkin Pria itu telah mencabik-cabik kehormatannya. Tuhan..terimakasih Kau telah menyelamatkanku dan Terimakasih telah menganugrahkan suami yang begitu baik, bisik hatinya lirih.

**TAMAT**




BACA JUGA ARTIKEL MENARIK LAINNYA DENGAN KLIK LINK BERIKUT
baca juga  artikel lainnya :

TENTANG PERNIKAHAN

PARENTING

KESEHATAN LAMBUNG DAN LAIN-LAIN

KEHAMILAN




6*J-Theme