-->
Tampilkan postingan dengan label melawan asap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label melawan asap. Tampilkan semua postingan

KETIKA


Ketika
Kabut asap menerpa..
Hati menista
Bibir mencela..

Ketika
Kabut asap makin mendera..
Dendam membara..
Pada ntah siapa...
Hati  menduga..duga..




Ketika kabut asap tak jua sirna
Terbesit bisik dalam  dada
Mungkin ini balasan dosa
Jauhnya syukur dalam jiwa

cobalah lihat kesana...

Terik mentari... selalu dicaci
"Panassssnya!!!!" 

Ketika..
Hujan mengguyur bumi..
Hati menjerit memaki..
"Hujan lagi !!!"

Nikmat Tuhan..
Selalu di dusta..

Kini saat bersihkan jiwa..
Meminta ampun kepada Nya

Jika gerimis mengurai langit mendung..
Dirimu bisa berlindung 

Jika terik panas tak bisa  di-elak...
Dirimu bisa istirahat sejenak.
.
Namun jika asap menderu..
Kemana lagi hendak dituju..
Menyusup bisu dibawah pintu
Menyusul lelapmu dibalik kelambu..
Meninggal kenang di rongga paru..

Kini...
Hendakkah..lagi...
Nikmat di dusta?
-------
#Selfreminder

HARUSKAH KAMI MATI

kabut asap


“Jadi Bencana Nasional , Parameternya jumlah korban, Kerugian Ekonomi, dan lainnya lalu harus ada PP baru yang mengatur status bencana ‘’

Kami memang tidak diterjang tsunami , diterpa angin topan, gempa bumi, ataupun gunung meletus yang membuat  daerah kami bergelimpangan mayat-mayat, membuat kami kehilangan saudara, kehilangan tempat tinggal yang membuat rugi secara ekonomi dan psikis kami terganggu bahkan gila.
Apakah dengan parameter tersebut kami tidak bisa dikatakan sebagai korban.

Apakah..kami harus mati dulu….
Apakah kami harus miskin dulu…
Apakah kami harus gila dulu…
Baru bisa dikatakan korban..

Selama ini kami korban..
Korban keganasan dan kerakusan para penguasa egois.. yang mungkin jadi merekalah yang memberi izin membuka lahan baru, dan mereka tidak ingin rugi. Dengan modal sebatang korek api mereka membabat hutan kami, dan menebarkan penyakit dengan memasukkan partikel berbahaya pada nafas kami.

Mungkin, sekarang  tak ada mati massal, tapi tunggulah beberapa tahun lagi akan ada kematian massal pada generasi kita. Kematian oleh penyakit yang dihirup berpuluh puluh tahun. Ini lebih kejam dari eksekusi mati seorang penjahat. Karena kami menikmati rasa sakit dengan mengeluarkan biaya sedikit demi sedikit  ,untuk berobat, padahal  semua biaya tabungan kematian.

Itu semua membuat kami miskin, miskin udara bersih, miskin kekayaan alam kami. Tak lagi bisa bercerita pada cucu kami tentang indahnya dan sejuknya hutan. Percuma sekarang kita bercerita di buku pelajaran tentang pentingnya hutan menyimpan segala sumber daya alamnya. Toh pada kenyataannya justru berubah menjadi lahan industri demi kepentingan sekelompok orang.
Tak bisa bercerita kepada mereka bahwa Desa indah permai dengan udara yang bersih. Justru kini desa lah yang udaranya paling kotor.

Sekarang  pun kami sudah gila , keadaan ini membuat kami tertekan dan stress. Bagaimana tidak, kami disuruh tetap di dalam rumah dan mengurangi aktivitas diluar rumah. Anak-anak kami diliburkan sekolah, mereka tak lagi bebas bermain dengan keadaan ini. Dan bapak tau…sekarang pun menyelinap kedalam rumah kami.  Kemana kami harus mengungsi..?  Kami terpenjara di tanah tumpah darah kami sendiri. Apa itu tak membuat jiwa kami tertekan..?? stress kita harus bepergian keluar rumah dengan membawa anak, karena keperluan mendesak ntah berobat atau lainnya.

Kami disini perlu gebrakan, Gebrakan dengan menyatakan bahwa kabut asap adalah bencana nasional yang perlu  dipadamkan segera secara serentak. Percuma jika padam satu daerah..karena  asap akan terbawa oleh  angin… jika perlu keluarkan lah Peraturan pemerintah terbaru, karena peraturan itu kondisional jika keadaan sudah parah begini perlukah  terikat pada peraturan yang lama.? Bagi kami 14 Pesawat dan 17 Helikopter itu belum cukup.

Haruskah kami mati dulu..?
----------

Airmolek, 5 Oktober 2015
Selamat hari TNI
Dalam sumpah mu..
Bangkitlah membangun negri.
Serahkan Jiwa dan ragamu untuk bangsa ini.


6*J-Theme