Menjadi seorang istri itu adalah pilihan, karena banyak juga perempuan memilih untuk melajang . Setiap orang memiliki hak masing-masing untuk menentukan hidupnya, termasuk soal menikah. Atau bisa juga bukan memilih untuk melajang cuma sejak awal bilang “nanti dulu lah” dan akhirnya waktu berlalu begitu cepat. Ada pula yang memilih untuk nikah diusia muda, dan ada pula yang merasa galau menunggu jodoh yang belum juga datang.
Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernikahan. Tampilkan semua postingan
Siapa sih, yang gak bahagia ketika pernikahan diambang mata. Sebagian perempuan justru merasa was-was ketika detik-detik bertemu calon mertua untuk pertama kali. Apakah calon mertua akan suka? Terutama ibu mertua. Bagaimana kalau sang calon ibu mertua ternyata orangnya julid, atau bahkan sangat pendiam, yang kita sendiri bingung apa yang harus diobrolin. Banyak juga yang merasa gagal saat pertama kali melakukan pendekatan dengan sang calon mertua.
Menikah adalah sebuah keputusan yang tidak mudah diambil, namun harus dijalani karena fitrah manusia untuk hidup berpasangan, butuh kasih sayang dan saling menyayangi. Menikah mengucapkan janji hanya hanya butuh waktu 15 menit didepan penghulu dan saksi , namun menjaga pernikahan itu sepanjang hayat.
Pada suatu hari Lia (sebut saja begitu ) datang ke rumah Rina. Lia bermaksud mengajak Rina jalan-jalan sekedar makan diluar dan ngobrol. Tetapi seampai dirumah Rina, Rina terlihat repot membantu ibunya didapur. Ya, Ibu Rina adalah pedagang makanan bisa dibilang buka warung makanan. SEbagian tugas ibunya Rina yang mengerjakan seperti menggiling bumbu dll. Rina meminta Lia menunggu, dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dulu dan kemudian baru pegi keluar. Melihat Rina yang lagi repot yang keliahatan hidupnya begitu ribet (menurut penilaian Lia), pagi-siang bekerja, sore sampai malam membantu ibu untuk berjualan esok harinya. Lia berbisik “ah..kenapa kamu gak menikah saja dari pada ribet gini bantu orang tua, kalau nikah kamu kan bisa tinggal sama suami gak dirumah ini lagi”.
---
Adakah diantara kita yang menikah dengan alasan seperti yang diutarakan Lia pada Rina. Terkadang banyak menganggap menikah adalah sebuah solusi dari masalah yang kita hadapi. Ya, mungkin menikah bisa jadi solusi untuk beberapa hal, tapi tentu tidak seutuhnya, karena menikah bukanlah pelarian.
Menikah adalah ibadah maka mulailah dengan niat yang baik membangun rumah tangga , bukan karena ingin jauh dari orang tua, bukan karena bosan dengan hidup yang sekarang, atau karena patah hati dan balas dendam dengan seseorang. Menikahlah disaat benar-benar siap menjalaninya, karena menikah itu bearti menambah kewajiban dan tanggung jawab, ada kesiapan mental didalamnya.
Menikah adalah ikatan untuk seumur hidup bukan sehari atau dua hari bukan sebulan dua bulan. Ada yang berani bilang udah nikah saja dulu nanti jika nggak cocok tinggal cerai saja. Cerai tak semudah yang di ucapkan. Buktinya banyak yang bertahan dalam pernikahan walau kenyataannya pernikahan yang ia jalani banyak sekali kerikil yang menghalangi, entah dari segi ekonomi hingga perselingkuhan bahkan KDRT dan tetap bertahan hingga puluhan tahun. Tak semua yang bisa dan kuat untuk mengambil jalan berpisah, apalagi sudah memiliki anak.
Baca Juga : 5 Hal yang membuat istri bertahan, ketika pasangan selingkuh
Baca Juga : 5 Hal yang membuat istri bertahan, ketika pasangan selingkuh
HIdup ini adalah perpindahan dari satu masalah ke masalah yang lain, jadi percuma saja jika maksud menikah adalah untuk menghindari permasalahan hidup. Bahagia itu kita yang ciptakan, walau hidup disituasi dimanapun jika kita mensyukuri apa yang kita punya , berdamai dengan keadaan, berusaha tenang menjalaninya, insha Allah langkah kaki menjalaninya terasa tidak begitu membebani (#selfreminder) ☺ . Faktanya pernikahan yang kita jalani tak seindah dan seromantis yang kita bayangkan diawal, selalu saja ada debat kecil dan peetengkaran dengan pasangan.
Dari sekian banyak permasalahan yang ada, ternyata pernikahan membuat kita banyak belajar dalam melakoni peran kehidupan. karena pernikahan ibarat sekolahan yang tiap saat memberikan kita pelajaran, dan sesekali pasti di uji.
Pernikahan mengajarkan kita tentang tanggung jawab. Menikah artinya beratambah pula kewajiban dan tanggung jawab, baik sebagai istri maupun suami. Jelas tak bisa sebebas saat masih lajang, jika dulu suka pergi kemana suka, dan pulang larut, tentu hal ini tak bisa dilakukan sesering mungkin. Jika dulu suka suka shopping belanja ini itu, sekarang fokus kemasa depan keluarga. Sebagai istri ada pekerjaan rumah tangga yang harus dilakukan, menyiapkan makanan, dalam bersikap pun begitu karena ada dua keluarga yang harus dijaga nama baiknya.
Pernikahan Menuntut Keterbukaan. Keterbukaan disini tentu antara kita dan pasangan. Kadang agak sulit dilakukan para introvert yang suka memendam masalah didalam hati. Rumah tangga dibangun berdua jadi antara kedua sisi harus jalan seimbang . Komunikasi itu selalu jadi nomor satu, jika ada masalah atau ada sesuatu harus dibicarakan. Ngambeg diawal pernikahan memang terkesan manjah-manjah manis. Si istri ngambeg dan sedikit berkaca-kaca, suami langsung merayu dan mengusap kepala. Tapi jika itu dipelihara suami juga bosan, dan tentunya tak semua masalah bisa diselesaikan dengan ngambeg manja. Seorang suami juga begitu jika ada yang kurang berkenan dengan istri, lebih baik langsung diutarakan dari pada diam, dan istri jadi menebak-nebak kenapa suamiku marah. Diam memang emas tapi diam tak menyelesaikan masalah, jika sama-sama diam sama-sama menduga justru permasalahan jadi merembet keman-mana. Yes, komunikasi itu penting dan harus diutarakan dengan tenang bukan mencak-mencak dan gampar-gamparan, apalagi sampai ribut se er-te.
Pernikahan mengajarkan untuk lebih dewasa dalam bersikap. Pernikan adalah awal menjalani hidup yang lebih serius. Tentunya kita tak bisa bermain-main, menikah itu bagai membangun sebuah perusahaan, jika ingin berhasil dan membuat rumah tangga tentram jalani dengan serius. Pikirkan dan ikhtiarkan untuk keutuhan keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.
Pernikahan artinya menambah stok “sabar” yang banyak. Sabar disini bukan artinya diam saja tanpa usaha.
“ Suamiku emang gitu sih, orangnya temperamental suka marah-marah , banting ini itu, sabar aja ,aku paham sifatnya begitu”
“ Istri aku emang gitu, kalau lagi marah suka mencaci maki, sumpah serapah, banting pintu, aku paham ya sabar saja”
Bukan gitu juga kali ya..
Jika ada masalah selesaikan masalah dengan tenang dan cara yang baik bukankah kita telah diajarkan untuk dewasa. Jika pun ada pertengkaran kalau mau baikan jadi gampang, tinggal colek-colekan selesai. Coba deh, kalu saling maki suara keras, mau baikan terhalang gengsi.
Curhat saat ada masalah memang melegakan tapi kita tak bisa asal curhat, pastikan kita curhat pada orang yang tepat dan mampu memberi solusi bukan justru mengompori, dan jangan sampai curhat dan menjelekkan pasangan atau keluarga pasangan di sosial media.
--
Pernikahan memang butuh tanggung kawab, keseriusan, kebijakan, butuh kedewasaaan, tapi menikah itu menyenangkan. Hidup tak akan indah tanpa warna warni, hidup tak akan lengkap tanpa campuran berbagai rasa manis, asam, asin bahkan pahit yang ternyata didalamnya ada obat yang menyembuhkan.
Awali pernikahan dengan niat yang baik, dan cara yang baik, bukan karena ingin keluar dari keluarga, tapi menambah keluarga dan menjalin silaturahmi yang lebih hangat.
Jadi,
Jangan takut menikah, ya.
#Selfreminder
Ikatan perkawinan atau menikah bukanlah suatu permainan, disitu ada keseriusan, ada tanggung jawab yang harus dijalankan, baik sebagai istri atau suami. Setiap pihak tak hanya menuntun hak semata tapi ada tanggung jawab, dan tugas yang akan dijalankan. Jadi buat yang belum berumah tangga jangan percaya kalau nikah itu enak, karena enak itu cuma 20 persen, sisanya kamu akan merasakan enak banget :D. Menikah bukan panggung sandiwara , yang ceritanya bisa diatur diawal, ya tapikan walau bagaimana sulitnya liku yang dilalui, tapi jika dijalani berdua, saling berpegangan dan menguatkan akan terasa bahagia.:)
Masih ingat cerita seorang artis yang suka nyetatus agak-agak nyinyir, nyindir-nyindir, yang katanya masih cemburu dengan mantan pacar suaminya dimasa lalu ?, yes MH. Saya kok sedikit setuju dengan apa yang dia rasakan dan ditulis dalam blog pribadinya, bukan setuju soal kenyinyirannya dalam status, atau terlalu judes dan frontal dalam menyampaikan yang dia rasa. Saya setuju beberapa pendapatnya.
IF (suami MH), banyak dikeluhkan teman-temannya (perlu disebut inisial gak ya?, pasti sudah tahu lah ya keluarga A & M, dan penyanyi burung camar). Mereka pernah menyampaikan atau mengeluh bahwa sejak menikah dengan MH, IF sudah jarang berkumpul dengan mereka, jarang bergaul dan jalan bersama. Ternyata diketahui bahwa MH , tidak menyukai teman-teman lamanya karena cara bergaul yang sudah gak cocok , misalnya masih suka cipika cipiki antar lawan jenis, gak sungkan memperlihatkan aurat didepan bukan muhrim, pakaian yang minim dan seksi.
Ups! Stop! ini bukan artikel buat bergossip ya, itu cuma contoh kasus saja.
Apakah ada istri atau suami yang mengeluh atau merasa kesal dengan pasangan ? karena suka melarang, suka cemburu jika mengetahui ternyata masih suka bertanya kabar tentang teman lawan jenis, atau marah-marah saat mengetahui sering ngumpul tidak jelas hingga malam bersama teman-teman , atau suka protes saat ketahuan suka mencandai seseorang diruang grup chatt.
Sebelum marah-marah atau merasa kesal coba kita pikir ulang. Saat kita memutuskan menikah, artinya kita mencintainya , dan ada tanggung jawab untuk menjaga cinta, mempertahankan rumah tangga agar tetap utuh hingga maut memisahkan.
Jadi please, jika ada yang bilang “ kamu berubah setelah menikah, tidak asyik lagi, tidak gaul lagi”, jawab saja karena aku lebih mementingkan menjaga perasaan istri atau suamiku dibanding memuaskan keinginan kalian. Mungkin Tidak akan putus hubungan begitu saja, mungkin ada saat kumpul bersama , ada saat bercanda, tapi tentu tak sesering sebelum menikah.
"Menjaga perasaan istri atau suami jauh lebih penting dibanding sekedar rasa malu karena dianggap "berubah" setelah menikah"
Kata orang cinta itu tumbuh karena sering bertemu. Jadi jika setelah menikah sudah seharusnya kita berubah, berubah untuk menjaga cinta yang halal. Setelah menikah wajib untuk menghindari hal-hal yang akan mengikis rasa cinta dan merusak rumah tangga, terutama interaksi yang terlalu bebas dengan lawan jenis. Buat para perempuan waspadai pria penggoda iman, buat pria waspadai wanita pelakor dan valakor, dan waspada bahaya curhat dengan lawan jenis.
Masa harus berubah setelah menikah ?, bagaimana dengan hobi ku?, bagaimana dengan teman-teman ?. Pasangan tak akan pernah melarang untuk melakukan hobi, apalagi jika itu positif, tapi walau bagaimanapun tentu ada batasan, ada waktunya, karena pasangan juga butuh perhatian, ihirr ;D. Hidup itu dinamis dan terus berubah, masa prilaku saat SMA, kuliah, menikah, terus punya anak, yo masa gak ada berubahnya. Jika semua untuk kebaikan, move on itu penting. Pernikahan adalah komitmen, jadi kalau mau masih bebas bergaul dengan lawan jenis, atau kongkow-kongkow sampai pagi, masih suka jamah sana jamah sini, mendingan jangan menikah dulu.
#SelfReminder
ABOUT ME
Hai, saya Nova, seorang ibu, blogger, dan freelance digital yang senang berbagi cerita melalui tulisan. Di blog ini, saya menulis tentang lifestyle, dunia perempuan, kesehatan, serta berbagai informasi menarik lainnya. Semoga setiap artikel yang Anda temukan di sini menjadi teman membaca yang menyenangkan. Terima kasih sudah berkunjung dan menjadi bagian dari perjalanan blog ini. Jika tertarik untuk bekerja sama, silakan cek halaman Disclosure..








