Anak Remaja Bunda Bersifat Tertutup, Mungkin 6 Kesalahan Ini Yang Telah Bunda Lakukan.

15:52:00



www.novanovili.com - [ Parenting] Anak merupakan bagian dari tubuh kita, darah daging kita, siapa sih yang tidak bahagia ketika anak memiliki hubungan yang dekat, akrab dan hangat  dengan anak-anak.  Tapi banyak juga bunda yang resah ketika mendapati anak yang begitu pendiam, kurang terbuka. Padahal jujur saja terkadang begitu ingin tahu apa yang sedang dirasakan oleh anak, masalah apa saja  yang sedang dihadapinya, tapi anak jarang sekali bercerita, bahkan jika ditanya sekalipun dijawab satu-satu atau tak sesuai yang kita harapkan.

Banyak anak remaja yang begitu terbuka , serta percaya kepada  teman -temannya dibanding orang tuanya. Sungguh ini sangat mengkhawatirkan terlebih dizaman sekarang banyak prilaku-prilaku anak yang menyimpang tanpa sepengetahuan orang tuanya. Orang tua wajib tahu, anak pergi kemana dengan siapa, ada rencana apa minggu ini. Banyak orang tua yang kecolongan  dengan prilaku anak.  Di rumah terlihat pendiam dan baik  gak neko-neko tapi tiba-tiba ada laporan dari sekolah bahwa anak suka membolos, merokok dll.

Tertutupnya sikap anak bisa jadi karena karakternya pendiam dan introvert memang sudah bawaannya seperti itu. Tapi kita sebagai orang tua pasti paham  anak yang pendiam yang  sudah bawaan  kecil, tapi walupun begitu biasanya mereka tetap terbuka dengan orang terdekatnya seperti ayah ibu nya atau sodara kandung yang lain.

Lalu bagaimana jika ternyata anak atau remaja yang sebenarnya memiliki sifat ceria, extrovert tapi bersikap tertutup dengan  orang tua sendiri?. 

Berikut beberapa alasan yang memungkinkan  anak bersikap tidak  terbuka kepada ortuanya :

1). Jarang mengajak anak berbicara.   Ntah apa alasannya terkadang ada orang tua yang telalu pendiam dan jarang bicara pada anak, mungkin terlalu sibuk atau merasa semua baik-baik saja  . Mungkin melihat anak berkelakuan gak macam-macam, cuma dirumah, atau asyik main sendiri,  lalu berpikiran  “ah..dia baik-baik saja kok, jadi tidak perlu tanya macam-macam”. Tapi apakah bunda yakin bahwa anak bunda baik-baik saja? kita hanya melihat tampilan luar saja loh, dihati dan pikiran  siapa tahu. Bukankah pernah ada kasus anak bunuh diri, lalu orang tua tidak tahu alasannya?, ada juga anak yang tiba-tiba melarikan diri dari rumah karena merasa tidak diperhatikan. Mengajak anak  berbicara bisa membuat mereka bersikap terbuka, merasa ada teman untuk bercerita, merasa ada orang yang bisa dipercaya untuk menyimpan “rahasianya”.  Kita bisa memulainya sedini mungkin, sejak mereka pandai berbicara karena jika menyadarinya ketika remaja agak sulit untuk “mengorek-ngorek” apa yang mereka pikirkan.

Untuk kebaikan tak ada kata terlambat, mungkin awalnya mereka jengah dengan keberadaan kita yang “kepo”, tapi yakinkanlah bahwa dia merasa nyaman dengan keberadaan kita. Anak tak hanya butuh uang tapi juga kasih sayang perhatian dan sentuhan.

Bisa juga bunda memberi pancingan kepada mereka. Berceritalah bunda lebih dahulu, curhat-curhat kecil, atau minta pendapat mereka. Dengan begitu mereka merasa dibutuhkan, dan merasa tak ada jarak dan tentunya mereka juga mau bicara dan bercerita tentang apa yang mereka rasa dan alami.

Baca juga : Ketika anak tumbuh sebagai penentang

2). Malas mendengar curhat anak. Harusnya bersyukur ketika anak mau bercerita keadaan mereka, ntah tentang sekolah, teman, bahkan sosok yang dia taksir, atu ada cowok yang naksir, dll. Walau kita tidak setuju dengan apa yang terjadi, tetaplah jadi pendengar yang baik. Jika ada hal-hal yang mungkin “menyimpang” minimal kita mengetahuinya dan pelan-pelan kita beri masukan, atau diskusi bersama beri alasan-alasan yang tepat. Karena jika kita langsung bertindak , bisa saja mereka jadi tidak mau curhat dengan kita karena sudah ketakutan duluan.


3). Memotong pembicaraan dan Prasangka Negatif. Awalnya mungkin anak ingin bercerita terbuka, tapi karena emosi atau”sok tau” kita malah memotong pembicaraan . Sikap kita ini tentu saja bikin mereka malas untuk terbuka dan bercerita  detail. Misalnya anak pulang sekolah  kesorean:

 “ Bun, tadi aku pergi ke rumah Nia..”
“Oh..jadi kamu pulang sekolah langsung kerumah Nia, rumahnya kan jauh..sendirian pula kalau kenapa-napa gimana ? besok-besok kalau mau pergi kesana telpon atau sms bunda dulu ya..”
“ Bun..Nia itu sakit hampir seminggu, jadi aku pergi sama teman sekelas sama wali kelas juga kesana, tadi udah  sms bunda, tapi gak ada jawaban, yaudah aku pergi aja, kan bukan maksud main-main”
“…….oh iya , hp bunda mati barusan dicharger”

Sok tau banget kita ya bun?  Anak jadi suka males ngomong ,ya gini deh? belum apa-apa sudah disangka negatif.  Jika sudah begini tak hanya membuat sikap tertutup pada kita  tapi bisa membuatnya tidak jujur.

4). Apa-apa dilarang dan sering marah. Sebagai orang tua kita memang harus protektif terhadap anak tapi kadang suka lebay berujung posesif. Jika ingin melarang anak berkegiatan mungkin bisa mengajaknya berdiskusi, dan memberi gambaran plus minus jika anak mengikutinya, diharapkan anak bisa memahaminya dan memilih alternatif kegiatan lain. Bagaimanapun anak butuh bergaul dan tentu untuk pengembangan diri mereka  juga.

Baca juga : Orang tua cerewet, penting

5). Bersifat otoriter dan tak ingin mendengar pendapat Anak. Sifat orang tua yang keras dan otoriter kadang membuat anak malas bicara. Toh percuma saja, diberi pendapat atau tidak, tidak akan diterima. Ujung-ujungnya anak cuma manggut dan setuju didepan ayah bunda saja, tapi  dibelakang ia membangkang merasa bebas

6). Membuka rahasia anak. Setiap anak punya keunikan tersendiri. Ada tipe yang pemalu dan sensitif. Sesuatu yang kita anggap biasa justru dianggapnya penting dan rahasia . Misalnya dia menceritakan tentang sesuatu dan menginginkan kita merahasiakannya dari siapapun.  Tapi kita menyepelekan pesan itu tiba-tiba kita nyeletuk membeberkannya didepan saudaranya yang lain lalu tertawa. Mungkin kita anggap itu biasa, tapi bagi yang sensitif, ini justru sebuah pukulan baginya. Besok-besoknya anak jadi malas bercerita.

Anak bersifat tertutup memiliki berbagai alasan, kadang mereka malas ribut karena kita yang menanggapi masalah dengan terlalu heboh dan ekspresif. Seperti telah dijelaskan bahwa anak memiliki keunikan tersendiri ,ada tipe yang tidak kita tanya pun mereka tetap berbicara, ada tipe yang tertutup dimana kita sebagai orang tua harus memiliki strategi sendiri menghadapinya. 

Yuk..bun kita jalin kedekatan dengan anak dari sekarang, terutama bunda-bunda yang anak-anaknya masih balita, masih gampang dibentuk, bener gak sih…?. #SelfReminder




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

33 komentar

  1. bener membentuk anak balita lebih mudah... nanti terasa pas anak kita remaja.. udah tinggal mengarahkan aja

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih..aku jug algi banyak belajar..

      Delete
  2. makasih sharingnya, aank sulungku tertutup pdhl aku selalu mengajak bercerita dan selalu menjadi pendengar setianya. ternyata aku baru tahu sekarang, kalau anak itu kalau gak merasa dirinya gak apa2 gak akan cerita tp kalau dia merasa perlu cerita dia akan cerita sendiri, beda dg anak keduaku apa saja diceritakan sampai hal yg sepele

    ReplyDelete
    Replies
    1. tiap anak punya keunikan sendiri ya mba...karakternya macem2, tapi klo kita selalu perhatian..kita bisa hafal watak anak..jadi gak khawatir..atau curiga.

      Delete
  3. Kalau saya sendiri tipe anak yang dekat dan kalau ada apa-apa pasti cerita dengan ibu mbak. Dari kecil ibu selalu teaten mengajak saya berkomunikasi atau sekadar ngobrol tentang kejadian di sekolah. Hal tersebut membuat perasaan kami menjadi dekat satu sama lain. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terbukti deh ya.. rajin ngajak anak komunikasi..anak jadi gak jaga jarak dg ortu..

      makasih udah sharing..

      Delete
  4. Terimakasih banget lho mba, anak saya mulai ABG penting sekali membaca ini, jadi saya harus menghindari hal yang mba sebut di atas agar anakku nanti terbuka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. aku juga mencoba membangun kedekatan dan keterbukaan dlm keluarga..

      Delete
  5. Anak remaja memang tak mudah karena mereka nggak mau diperlakukan sebagai anak-anak tapi satu sisi ya masih kayak anak-anak. Itu pengalamanku nangani anak remajaku, mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku waktu remaja juga gitu mba.. rasanya kelas 2 smp udah dewasa banget... haha..

      jadi gak heran liat remaja sekarang... , karena kita mengalami sendiri..

      Delete
  6. sip mbak, kadang anak mau caerita orang tus sibuk dg aktifitasnya,padahal penting sekali mendengarkan ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya...
      kalo lagi sibuk.. mungkin bisa ditunda..dan menanyakan kembali diwaktu senggang.

      Delete
  7. Segera lakukan sejak anak balita ya. Biar udah ABG gak susah amat mengarahkannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya..juga akan lakukan..
      sama2 belajar kita he2

      Delete
  8. Anakku yang sulung memang pendiam dan tidak merasa ada masalah. Jadi kalau saya nggak mengorek berita darinya ya nggak tahu apa-apa. Beruntung kalau bertemu dengan wali murid dan ngobrol masalah perkembangan anak remaja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang mesti banyak nanya..
      kalo tipe rada pendiam..

      Delete
  9. Poin no 4, aku malu bacanya :(. Soalnya sadar selama ini suka marah krn ga sabaran dan dikit2 ngelarang.. Suami pdhl udh wanti2 kalo ama anak jgn terlalu kaku dan suka gedein suara. Ngelatih kesabaran itu emg susah yaa.. Tp aku pgn berubah sebenernya supaya anak2 juga bisa terbuka nantinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang kita terlalu khawatir..cumabcaranya auka larang2 hi2

      Delete
  10. Ponakanku ada yang masuk ABG.alhamdulillah dia mau cerita banyak hal ke aku. Khawatir juga kan dengan akses Internet yang mudah. Isinya aneh-aneh

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih..apalagi anak2 ponsel udab ditangan kita gak tau mereka akses apa saja... jika anak mau cerita udah ad modal mengawasi mereka..

      Delete
  11. Cateeet, anak saya masih balita. Nanti maunya klo udah remaja dia bisa terbuka sama aku, hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba..usahain lagi balita gini... jadi udah terbiasa..buat cerita2 apa yg mereka rasakan..

      Delete
  12. aku dan 5 adikku dekat dan terbuka semuanya ke mamah, alhamdulillah punya mamah yang open minded dan selalu mengikuti perkembangan dunia parenting ... ini yg aku ingin terapin ke anakku

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh.. mau donk dapat bocoran bagaimana mamanya mendidik..
      bagi2 ilmu hi2

      Delete
  13. bagus banget mbak bahasannya , jadi pembelajaran buat saya kelak suatu hari saya menjadi seornag ibu.

    ReplyDelete
  14. apa-apa dilarang ituuu yang bikin anak anak minder mau ngapa-ngapain dan bahkan bisa ngelunjaak :3

    thanks for sharing kaak

    ReplyDelete
  15. Makasih sharingnya Mbak, beberapa bulan lalu. Aku ngobrol dengan teman suamiku. Dia merasa jauh sama anaknya, sampai anaknya lebih mementingkan teman-temannya. Akhirnya bapaknya sadar, bahwa yang dibutuhkan oleh anak adalah penerimaan dari orang tua dan kedekatan.

    ReplyDelete
  16. Aku belum ibu-ibu sih, tapi punya ade yang udah remaja dan lagi puber2an, Rada susah mengulik cerita pubernya ^^

    ReplyDelete
  17. aku type yang pendiam dan introvert mbak. Makasih ya mbak sharingnya, sangat bermanfaat jika kelak aku punya anak. Doain aku cepat nikah dan punya anak ya mbak haha ;)

    ReplyDelete
  18. Anak saya usianya baru 5 tahun, jadi bisa dimulai dari sekarang mendengarkan anak bercerita supaya nanti kalau sudah remaja tetap terbuka ya.
    Terimakasih untuk sharingnya mba :)

    ReplyDelete
  19. Remaja kalau merasa gak nyaman, pasti gak mau curhat. Saya punya adik remaja yang kadang diajak diskusinya susah. Makasih sharingnya Mba Nova, tips ini wajib saya terapkan juga ke anak saya yang usia 7 tahun, biar pas dia remaja, anak saya tetap terbuka, tetap merasa nyaman ngobrol sama orang tuanya

    ReplyDelete

Terimakasih atas kunjungannya, jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya di sini yach...:), Tidak terima komentar spam dan komentar mengandung Link atau brokenlink akan dihapus

MY IG

VIVA LOG