Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Memaksimalkan Belajar Online Dari Rumah



Belajar dari rumah merupakan keputusan  tepat di masa pandemi saat ini. Tetapi setiap keputusan setiap pilihan  itu  tak akan ada yang sempurna tetap ada kekurangannya. Keputusan belajar dari rumah disambut positif oleh guru dan orang tua mengingat kondisi saat ini, namun lama kelamaan kita jadi menyadari banyak sekali permasalahan yang timbul saat keputusan itu diambil. 

LIBURAN KE PLANET JUPITER BERSAMA PADDLE POP MOCHI



Sejak mendengar lagu tentang nama planet di film kartun kesayangannya Hamid begitu tertarik dan begitu penasaran dengan keberadaan planet. Dia jadi hafal nama planet juga ciri-cirinya . Emaknya ditanya tentang soal planet tiap hari, jika aku gak  bisa jawab terus  diminta tanya ke google, hahaha. Pernah juga keluar subuh-subuh cuma pengen lihat bintang fajar alias planet Venus. Anak memang rasa ingin tahunya besar dan ingin dipenuhi dengan jawaban yang memuaskan.

Cara Mudah Mengajar Anak Membaca Tanpa Membuat Anak Merasa Belajar




Aku salah satu orang tua yang ingin anak bisa membaca sebelum masuk Sekolah Dasar, tetapi tetap belajar  sesuai usia. Umumnya anak sudah bisa lancar membaca di usia 6 atau 7 tahun, dan kita bisa memulainya di usia 3-4  tahun, saya menggunakan kata “memulai” bukan artinya anak harus dilatih keras di  usia tersebut.  Pastinya tidak mau juga dong  anak  jadi tertekan secara psikologis, atau terganggu secara emosi gara-gara dipaksa melakukan sesuatu yang mereka juga belum tahu untuk apa sih? Anak- anak masih senang diajak bermain, bernyanyi, dan segala sesuatu yang membuat mereka happy

Mengalihkan Perhatian Anak Dari Gadget


Mengalihkan Perhatian Anak Dari Gadget

Beberapa waktu lalu aku menulis tentang anak ku yang mulai kecanduan gadget berawal karena dia susah makan, artikel bisa baca disini .  Ya semuanya berawal agar dia anteng , agar dia mau makan, tapi lama kelamaan dia hafal dengan kebiasaan itu. Untuk selanjutnya dia bilang mau makan kalau sambil liat HP, dia mau ditinggal saat aku ke pasar kalau dipinjamin HP. Lama-lama nagih dan suka nangis-nangis kalau gak dipinjami. Dia lebih kangen HP dibanding aku , kalau aku datang yang dikejar tas aku, bukan meluk atau nyium aku, so sad.

Susah Makan, Anak “Kecanduan “ Smartphone


Susah makan lalu “kecanduan” smartphone ? bagaimana ceritanya?. Apa anak gak suka makan nasi lalu , dikasih smartphone goreng campur saos gitu? Lol. Pastinya udah paham , k
Bahwa ini tentang anak yang ketagihan main smartphone. Yuk simak yuk curhat ku, setelah sekian lama gak nulis di blog ini.

Manfaat Bernyanyi Bersama Balita

Bernyanyi bersama balita


Sering ngomong ke Hamid, “duh nak..bok ya duduk anteng, dari tadi kok gak ada diamnya lari sana lari sini, apa nggak capek?”. Tapi ya begitulah anak-anak, mereka suka bersenag-senang. Walau kadang capek, tapi dalam hati bersyukur , anak aktif menunjukkan jika ia sehat dan bahagia dan tentunya kita juga ikut bahagia. Dunia anak-anak  memang penuh kegembiraan, senang bermain, dan hati mereka masih suci, penilaian mereka juga tulus. Anak-anak memang gemar bermain apalagi belum sekolah belum dibebani pelajaran ataupun pekerjaan rumah yang lainya.

Memaksimalkan Waktu Bersama Anak


Menjadi ibu yang juga bekerja terkadang ada timbul perasaan bersalah atau semacam dilema. Perasaan ingin selalu dekat dengan anak tapi ada tanggungjawab pekerjaan yang harus di lakukan. 8 Jam berada di luar otomatis mengurangi waktu bersama anak, pasti ada kekhawatiran dihati kalau-kalau anak justru merasa jauh dengan kita tapi dekat sama yang mengasuhnya ntah itu keluarga atau yang lainnya.

10 Tips Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Bayi dan Balita

Pengetahuan juga skill bahasa dan komunikasi di usia dini sangatlah penting untuk kesuksesan anak di sekolah dan di manapun. Kemampuan berbahasa dan berkomunikasi termasuk di dalamnya memahami bahasa orang lain dan mengekspresikan diri sendiri menggunakan bahasa, gestur, atau ekspresi wajah.

Anak-anak yang memiliki kemampuan berbahasa dan berkomunikasi dengan sangat baik akan lebih siap mempelajari hal lain ketika masuk usia sekolah. Mereka juga tidak akan mendapatkan banyak kesulitan untuk membaca dan lebih mungkin untuk mencapai peringkat yang lebih tinggi di sekolah.


Mengajak Anak Ziarah Makam, Mengapa Tidak?

Hampir dua bulan lebih postingan blog ini lebih banyak “titipan” dari pada tulisan si mpunya yang manis ini ( manis opo ne?) . Bukan lagi laris manis atau kebanyakan job, tapi memang keadaan yang tak memungkinkan.  Sekitar 10 hari setelah lebaran nenek Hamid kesehatannya makin menurun, yang mau tak mau konsentrasi lebih banyak tercurah kesana.

Bermain dan Belajar Anak Batita



Anak usia sekolah telah memiliki jam khusus untuk bermain dan belajar. Apalagi jika orang tua telah memasukkan anak ke sekolah PAUD atau TK, pagi berangkat sekolah mereka belajar, pulang sekolah adalah waktu istirahat dan bermain, jika usia SD mungkin ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dan biasanya dilakukan pada  malam hari. Bagaimana dengan anak yang belum sekolah ?, usia bawah tiga tahun adalah usia pra sekolah walau banyak juga orang tua yang “menyekolahkan” anak sejak usia 6 bulan, ntah play group atau apa pun itu namanya.

Peran Orang Tua Untuk Daya Tanggap Lengkap Balita, Jangan Sampai Kita Kehilangan Masa Kecil Mereka


Jadi ibu itu unik, seunik tingkah balita yang lucu, spontan, tak bisa ditebak. Ketika anak baru lahir bahagianya tiada terkira, mencium, menimang, tak sabar  dengan waktu yang berputar sering berkata cepatlah besar nak ibu tak sabar mengantar mu kesekolah, mengajakmu bermain, tak sabar menimang cucu, loh? Lol. Namun setelah anak dewasa dan mandiri, tak jarang ibu merindukan masa kecil mereka, menyuapi, mengajak bermain, merindukan tangis mereka ketika enggan disuruh mandi pagi, tapi waktu telah jauh terlewati dan tak akan bisa kembali.

Tumbuh Kembang Anak Dengan Daya Tanggap Lengkap



Tumbuh kembang anak menjadi perhatian khusus bagi  orang tua jaman sekarang. Siapa sih yang tak ingin memiliki anak pintar, hebat dan memiliki daya tanggap yang lengkap. Sebagai  ibu tentu kita menginginkan yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak kita kelak. Apa yang perlu kita persiapakan untuk memiliki anak sehat, pintar dan memiliki daya tanggap lengkap? Yuk Moms kita obrolin .


ANAK SUKA MENONTON KARTUN, INILAH YANG HARUS DIPERHATIKAN



Semenjak Hamid senang menonton film kartun , saya jadi terpaksa ikut- ikutan menikmati jalan cerita nya apalagi kalau Hamid sudah  teriak gak usah ganti channel. Karena ikut menonton, saya jadi ikut hafal karena berulang-ulang diputar. Sebut saja Masha & the Beard, Tayo, Robocar Poly, Shimmer & Shine, Cloud Bread dll.Ternyata menonton film kartun yang tepat bisa memberikan dampak positif pada anak.

Mungkin Lucu, Tapi Tak Lucu



Tiap anak memiliki keunikan sendiri , apalagi anak balita. Anak usia balita umumnya serba baru bisa  , jadi tak heran jika banyak ucapan dan tingkah nya yang belum pas bahkan terkesan lucu. Tak jarang kita merasa geli dengan perilaku mereka, gemas, dan lucu yang membuat tangan kita gatal untuk mengabadikan moment-moment itu ke social media. Ntah itu menuliskan kembali ataupun sengaja merekamnya lalu mengaploadnya.

7 CARA MUDAH MEMBERIKAN PEMAHAMAN AGAMA UNTUK ANAK USIA BALITA



Anak tak sekadar anugerah tapi juga merupakan amanah. Ya, anak adalah sebuah titipan amanah yang diberikan Tuhan, Artinya kita punya kewajiban  menjaga, menyayangi, mendidik , menjadi manusia yang berbudi pekerti dan mengenal Tuhan.

Sebagai keluarga yang berpegang teguh pada agama , sudah menjadi kewajiban kita untuk mengenalkannya kepada anak se-dini mungkin. Terkadang kita merasa kebingungan untuk memulai dari mana, karena untuk anak usia balita komunikasi masih kurang lancar, bahkan banyak konsep kata yang belum mereka pahami. Sebenarnya kita tak perlu “to the point” untuk mengenalkan cukup melakukan beberapa kebiasaan yang mereka senangi, dan secara tidak langsung mereka menyerap kebiasaan baik terutama hal-hal yang berkaitan tentang keagamaan.

Hamil Duluan?!


Mata  X jauh menatap kedepan, kosong, tapi seperti ada pengharapan lalu bergumam.“Bagaimana ini ya, antara  ingin diceritakan atau tidak”, dasar aku manusia kepo lalau aku membujuknya untuk bicara. Lalu dia bercerita setengah berbisik, bahwa dirumahnya ada seorang anak gadis yang tak gadis lagi  yang sengaja  dititipkan ibunya ( ibu si gadis) karena diketahui  “berbadan dua” . Aku ikut terperanjat, “ lah.. , kenapa pakai dititipkan , kenapa tidak dinikahkan saja dengan pria yang sudah membuatnya hamil”. Kemudian   X melanjutkan ceritanya , bagaimana mau menikahkan? pria yang membuatnya seperti “itu” tak diketahui orangnya, karena si gadis beberapa kali nginap di hotel (aku gak tau alasan gadis nginap, apa sengaja “melayani” tamu ntah bagaimana yang jelas bukan diperkosa). Anehnya ibu si gadis malah  menyembunyikan dari suaminya, malah menitipkan anaknya jauh ke pelosok desa tempat X tinggal.

Ini bukanlah hal kecil atau sepele, walaupun zaman sekarang kejadian seperti  tak asing lagi ,tapi bukan artinya hal seperti ini boleh-boleh saja. Ada yang mengganjal pikiran aku, kenapa ibu si gadis menyembunyikannya dari suami. Apakah takut dengan suaminya, apakah takut suami akan menyalahkannya?. Seorang ibu memang memiliki hubungan yang dekat dengan anak, tapi ayah juga   memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik dan  mengawasi anak bukan sekedar pencari nafkah semata.

Kesal, Geram, marah, malu pasti menyatu saat pertama mengetahui anak  seperti itu, bahkan tak segan memukul  anak. Tapi kemarahan tak akan menyelesesaikan masalah , perlu kepala dan hati yang dingin untuk menyelesaikannya, jika tidak  maka keputusan yang diambil bisa lebih menjerumuskan. Jika sudah kejadian seperti ini Ibu dan Ayah harus ikut dalam menyelesaikan masalah, dan  tidak bisa saling menyalahkan. Harus dipikirkan berdua solusi seperti apa yang mesti dilakukan. Dengan ikut andilnya orang tua atau keluarga terdekat paling tidak mencegah tindakan atau keputusan yang lebih buruk, seperti bunuh diri, membuang bayi, bahkan membunuh bayi, seperti kasus yang viral baru baru ini yang dilakukan remaja 17 tahun.
--
Makin kesini pergaulan remaja bikin orang tua jantungan. Terkadang kita terlalu cepat menuduh orang tua tentang kesalahan anak, melihat seorang  anak memaki  berkata kotor, pakaian yang tak sopan,kita lalu  bilang “ siapa sih orang tuanya??, emang anak gak di ajarin yang baik apa?”, “ Pasti anak ini di didik dengan makian, makanya anaknya begitu”. Padahal orang tua di rumah begitu disiplin, cuma ancaman  dari luar begitu mengerikan, pergaulan kadang mengajarkan mereka pada kekasaran, mengenalkan mereka pada narkoba dan lainnya, bahkan untuk anak setingkat SD. Ini jadi alarm buat aku pribadi, jika  zaman sekarang saja sudah begini apalagi 10-15 tahun mendatang ketika anak ku remaja  nanti, memang membuat rasa was-was sendiri.

Berikut beberapa upaya yang bisa kita lakukan sebagai seorang tua untuk mencegah anak agar tidak terjerumus kedalam tindak kejahatan atau bisa dibilang maksiat (bahasanya ngeri banget yak).

Sebenarnya ini buat pengingat pribadi saja sih, karena setiap orang tua pasti paling tahu apa yang terbaik buat anaknya, paling tahu apa yang harus dilakukan. Setiap orang punya pandangan yang berbeda, kali  cuma aku yang orangnya agak parno-an atau berlebihan.

Kenali teman akrab anak/ pergaulannya.  Kita sebisanya harus tahu siapa teman akrabnya, bagaimana orangnya, apakah akan membawa pengaruh baik atau tidak. Memang agak susah ya, jika  teman dekat  sekitar rumah mungkin kita bisa mengenali orang tuanya juga, paling susah jika teman sekolahnya.  Kita mungkin bisa bertanya pada anak bagaimana teman-teman disekolahnya. Dengan begitu kita tahu dengan orang-orang seperti apa anak kita bergaul.

Memantau anak dalam berjejaring sosial. Anak gak akan nolak berteman dengan orang tuanya di sosial media semacam facebook dan instagram, asal kita gak ricuh dan ikut koment di statusnya dia. Jadi  jika ada sesuatu kurang sreg misalnya nge share link saru, ngomong kasar, kita bisa menegurnya diluar agar dia menghapusnya. Tapi anak-anak pintar ya? takut dikuntit ortu, eh akunt digembok, mungkin kita bisa mengsiasatinya dengan bikin akun palsu..hehehehe (namanya juga usaha). Cari tahu siapa yang mereka ikuti, siapa idolanya dan ngefans sama siapa,  anak punya sifat yang berbeda dan kadang bersifat tertutup sama kita, jadi sudah seharusnya kita mencari tahu bisa bertanya langsung bisa juga mencari tahu sendiri.

Menanamkan keyakinan pada anak bahwa jadi jomblo itu bukanlah kehinaan.  Tak pernah punya pacar bukanlah sesuatu yang memalukan.  Banyak orang tua yang kadang suka risih kalau anak gak  punya pacar, lucu aja sih. “ Kamu nih ngeram aja dirumah, kuper, coba tuh si anu sudah punya pacar”, atau ada rasa bangga jika anak sudah punya pacar , padahal pacar belum tentu jodoh. Dan akhirnya “kejadian” seperti saya tulis diatas kebanyakan dilakukan sama remaja yang berpacaran, yang katanya sebagai bukti cinta.

“kamu cinta gak sama aku”
“iya, aku cintaaaa banget sama kamu”
“ boleh aku cium gak..??, katanya cinta, mana buktinya”
Nah, biasanya selalu diawali begini, menuntut bukti cinta membuat gadis tanggung jadi galau, dan takut ditinggalkan, akhirnya menyerah pada kecupan (awalnya) dan kemudian pelan-pelan ………… “despacito”. :D

Wajib banget kita tanamkan bahwa  cinta itu sangat tingg nilainya, anugrah Tuhan yang patut disyukuri. Sangat tak pantas cinta harus dibuktikan dengan hal remeh  temeh  seperti  ciuman atau seks diluar nikah. Harga cinta itu sangat mahal, yaitu sebuah pernikahan. Jika cuma seks itu namanya nafsu dan hewan pun bisa melakukannya.

Memberikan pendidikan agama sejak dini. Menyekolahkan anak ke sekolah agama bukan bermaksud intoleran pada agama lain, lagi pula agama tak menghalangi untuk bergaul dengan yang berbeda agama. Khusunya agama islam itu sangat rumit, karena segala sesuatu diatur dengan rinci, mulai cara berpakaian,hingga bagaimana bergaul dengan lawan jenis. Dengan begitu diharapkan anak-anak jadi terbiasa untuk taat pada aturan agama, dan ada perasaan takut kepada sang pencipta, ada rasa takut dan berdosa ketika akan melakukan sesuatu yang melenceng. Pendidikan agama memang tak hanya didapat disekolah, jika kita menyekolahkan anak disekolah umum dengan alasan tertentu, mungkin kita bisa memberikan les agama dan kita pun sebenarnya adalah madrasah pertama dan utama bagi anak.

Jangan pernah berhenti  mendo’akan anak. Pastinya  kita tak bisa terus mengawasinya 24 jam. Sebagai manusia yang punya keterbatasan, kita hanya mampu meminta Tuhan untuk mengawasi , dan menjaga hatinya agar terhindar dari niat untuk melakukan hal buruk.

Tugas orang tua memang berat, tapi kita harus mengupayakan yang terbaik untuk anak kita dan untuk tanggung jawab kita diakhirat nanti.  Tapi jika upaya yang kita lalukan tak membuahkan hasil dan terjadi juga , mungkin Tuhan memberi ujian pada kita, agar kita lebih intropeksi diri untuk menambah ketaqwaan kita kepadanya.

#Wallahualam #selfreminder
---

5 HAL TENTANG MENGHANGATKAN PERSAUDARAAN YANG WAJIB DIKENALKAN SEJAK DINI


www.novanovili.com - [Parenting] Hidup adalah belajar untuk menjadi yang lebih baik, apa pun masalahnya apapun peristiwanya sudah seharusnya kita mengambil  hikmah dari setiap peristiwa, lalu menjadikan  diri lebih dewasa dalam bertindak. Jujur saja dulu aku orangnya tidak peduli tentang hal-hal berkaitan tentang sialturahmi, tapi setelah menikah suami sering mengingatkan, kita sudah lama ya, tidak main kerumah Kakak A, Mba B, Abang C. Aku yang orang rumahan, senangnya di rumah kadang bilang “ ah..gak apa lah, orang kita sering  ketemu juga, mereka kan sering kesini , kita juga sering ketemu mba A di rumah mamak. Terus suami bilang, ya beda lah.., masa bertamu nunggu setahun sekali ( dalam hati membenarkan).

Perbedaan aku dan suami mungkin karena pembiasaan sejak kecil. Ayah dan ibu ku bukan tak suka silaturahmi, mungkin kehidupanlah yang menyebabkan kurang dekatnya  antar keluarga, keluarga sepupu juga begitu, mungkin  mereka juga terlalu repot dalam memikirkan ekonomi keluarga, karena taraf kehidupan  35 tahun yang lalu itu bisa dibilang sangat sulit terlebih keluarga kami adalah merantau saudara dari pihak ibu tinggal cukup jauh.

Setelah memiliki anak, aku tak ingin anakku kelak kurang memiliki rasa empati terhadap keluarga, menjadi kurang akrab dengan sepupu-sepupunya. Hal lain yang paling aku takutkan , aku tak  ingin kelak  akan menjadi   ibu atau nenek yang jarang di jenguk oleh anak dan cucu, bahkan ketika aku begitu merindukan mereka, atau ketika aku sakit terbaring lemah.

Berikut beberapa hal yang wajib dikenalkan pada  anak sejak dini, sekaligus menjadi catatatan pribadi agar aku konsisten melakukannya dan menjadi contoh teladan yang baik untuk anak.

Mengunjungi kakek dan nenek. Kalau ini sih, gak ada masalah, karena aku tinggal dengan orang tua ku, dan Hamid  juga hampir setiap hari ke rumah simbah ( ibu  dari ayah Hamid). Penting banget  membangun hubungan dengan kakek dan nenek, kakek dan nenek mana yang nggak rindu sama cucu-cunya. Tapi bagaimana mungkin anak akan merasa dekat dengan kakek/nenek jika ayah ibunya justru jarang sekali mengunjungi mereka. Jika beda kota-beda daerah bisa memaklumi, tapi sekarangkan bisa telepon atau video call, jadi gak ada alasan untuk jarang bersilaturahmi. Nah ini ada masih satu kota,  tapi  mengunjungi orang tua menunggu  lebaran saja, tidak harus menginap menyisihkan waktu libur untuk mampir sejenak, datang pagi pulang sore, sudah membuat mereka bahagia. Ada pesan sebuah iklan pada bulan puasa tahun lalu , tapi aku lupa iklan apa “ bahwa rindu adalah oleh-oleh paling berharga ketika menjenguk orang tua, karena banyak orang  yang sukses terlalu sibuk hingga  tak punya rindu untuk orang tuanya” ;(.

Membiasakan berkunjung ke rumah sepupu-sepupunya/ saudara. Tidak mesti sering, cukup sebulan atau dua bulan sekali. Paling tidak cara ini mengingatkan  dan mengenal saudara-saudaranya lebih dekat. Disini bermaksud mengenalkan hubungan,  bahwa keluarga itu berbeda dengan teman atau tetangga biasa, beda chemistrynya (hmmm..bener gitu ya?)


Membesuk ketika ada keluarga yang sakit. Ini penting banget untuk menunjukkan rasa peduli dan empati kepada keluarga, dan menunjukkan rasa cinta. Adakah ketika mendengar ada keluarga yang sakit sudah seminggu, dua minggu, tapi sedikitpun tidak ada menelepon atau mengunjungi?. Jujur saja ketika kita sakit ada yang mengunjungi, hati kita pasti senang, begitu pula lah dengan keluarga yang lain. Apalagi jika itu hubungan yang dekat ntah itu, om, bude, keponakan, Kakek ataupun Nenek. Bercerita, menghibur , atau memberi pijatan-pijatan kecil pada kaki. Hal-hal kecil seperti itu  akan  menumbuhkan keakraban dan rasa memiliki dan mencintai.

Membawa bingkisan ketika bertandang. Bingkisan atau oleh-oleh saat  berkunjung tentu saja tak harus mahal, mungkin bisa bingkisan buah atau kue, atau martabak yang hangat, atau gorengan yang dibeli di warung kecil. Minimal tidak merepotkan yang dikunjungi, ada buah tangan yang bisa dicicpi bersama di sela-sela obrolan.

Ziarah. Tentang ziarah kubur memang banyak pendapat. Tapi bagi ku membawa anak saat berziarah ke makam orang tua (kakek-nenek/keluraga lain), itu cukup penting untuk mengenalkan silsilah keluarga, mengenal dan mengenang keluarga yang telah meninggal . Untuk saat ini anakku belum pernah aku bawa, tapi jika usianya sudah cukup paham akan aku bawa.
Hal-hal  diatas tentu tidak terikat pada hubungan saudara saja tetapi juga teman, tetangga atau lingkup yang lebih luas. Untuk  awal-awal tentu kita mengajarkannya untuk orang-orang terdekat. Jika ada point yang harus ditambahkan, teman-teman bisa sharing dikolom komentar.

Memetik Cinta Ananda Disaat Lansia


www.novanovili.com - [Parenting ] Pastinya kita sering mendengar bahwa ada orang tua yang sudah lansia tapi kurang mendapatkan perhatian dari anak-anaknya. Bahkan dari beberapa anaknya malas mengurusi, seakan seperti saling tolak jika diminta agar orang tua tinggal bersama mereka.

Kita yang melihat dan mendengar saja  ikut sedih apalagi  bagi ayah ibu yang sudah lansia itu mengalaminya sendiri. Bergidik membayangkan bagaimana jika kita mengalaminya ketika kelak masa tua itu menghampiri. Apakah teman-teman pernah membayangkan ini?  Jujur, aku pernah.
Rasa ketakutan di sia-siakan anak ketika renta itu  membua ke khawatiran sendiri, tapi pastinya semuanya bisa di antisipasi. Nah, berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan saat ini agar kelak kita tak disia-siakan oleh anak.

Menghormati dan berbuat baik ke pada orang tua.  Yes, tentu saja jika kita ingin kelak  anak-anak yang kita lahirkan dan kita besarkan menghormati kita sebagai orang tuanya, jauh sebelum itu kita juga harus menghormati dan berbuat baik kepada orang tua kita sendiri. Sudah banyak contohnya, bahkan  dari kerabat  sendiri, yang dulunya "durhaka" ke orang tua, eh nyatanya "dibalas" anak berkali lipat. Bukan maksud membuka aib tapi  hanya untuk menjadi contoh saja.

Tanamkan Pendidikan Agama. Akhir-akhir ini agama seperti dipandang  gimana..gitu ya.., kalo dengar  kata agama jadi kelihatan sinis saja bahkan ada ajakan jangan bawa-bawa agama. Padahal menurut aku pribadi (maaf jika tidak sependapat *emang perlu minta maaf ya..?) namanya Agama itu nomor 1 yang jadi pondasi atau landasan untuk melakukan segala hal. Misalnya banyak berdalih “ini seni loh… jangan bawa-bawa agama disini”, alhasil seni yang  diciptakanpun berhasil merusak moral misalnya tari telanjang dll (cuma contoh). Jika ada yang berbuat jahat berbuat kesalahan itu yang salah orangnya pribadi bukan agamanya, karena agama pasti mengajarkan kebaikan.


Begitu juga soal mendidik anak, dalam agama Islam sendiri begitu banyak dalil-dalil  yang menganjurkan  agar berbuat baik  kepada orang tua, terutama ayah dan ibu. Bahkan Ibu sendiri memiliki keutamaan lebih dibanding ayah, karena melihat jasa ibu baik saat mengandung, melahirkan, menyapih , mendidik dan membesarkan hingga dewasa.   Agama memberi dasar agar anak-anak tahu budi dengan kebaikan dan jasa-jasa orang tua. Bahkan diwajibkan berbuat baik walau kenyataannya orang tua berbeda keyakinan.

Jadi jika ada yang menasehati anak bahwa jangan menghormati orang tua  hanya karena telah mengandung melahirkan dan menyusui, jujur saja  kok rasanya kurang sependapat aja sih, karena Tuhan saja menyebutnya, masa kita nggak.


Ciptakan Kedekatan dengan anak.  Sekarang banyak banget artikel  yang berisi tips-tips meningkatkan bonding dengan anak. Cinta itu seperti tanaman akan mekar berseri jika dijaga, disirami, dipupuk dan dipelihara, begitu juga dengan kedekatan dalam keluarga. Bagaimanapun kita berusaha untuk selalu ada untuk mereka, mendengarkan  ketika mereka mengeluh, menguatkan ketika mereka lemah. Kita memang orang tua mereka, bukan bearti kita semena-mena, tugas kita menanam cinta di hati mereka, jangan sampai mereka tumbuh sebagai anak yang suka membangkang.


Tegas tapi tidak kasar. Sayang itu bukan artinya tidak pernah marah, marah karena cinta. Anak-anak suadah pasti sering melakukan kesalahan, adakalanya mereka perlu dinasehati bahkan dimarahi. Semua itu tentu saja untuk kebaikan mereka agar mereka tahu kata maaf dan kelak bisa memperbaiki kesalahan dan tak mengulangi kembali. Marah juga harus sesuai dengan porsinya tak langsung pukul, tampar , menendang, karena akan membuat anak- hanya takut di depan kita tapi membangkang jika jauh dari penglihatan orang tua, selain itu mereka hanya mengingat bahwa kita telah memukul dan takutnya menjadi sebuah dendam dan bom waktu dimasa yang akan datang. Tapi bukan artinya kita tidak boleh marah dan cerewet, bagaimanapun cerewet itu penting namun harus sesuai kebutuhan.

Jangan turuti semua kemauan, Jangan hanya uang. Mungkin kita banyak uang, kita kaya, tapi bukan artinya sebuah pembenaran untuk menuruti semua kemauan anak. Menuruti semua kemauan anak hanya mendidiknya menjadi anak yang lemah dan berpikir segalanya akan tercapai hanya dengan uang. Bahkan banyak anak-anak yang malas sekolah atau kuliah karena merasa orang tuanya kaya atau banyak uang.  Selain itu ditakutkan anak hanya menganggap kita sebagai mesin uang  dan ketika kita tua , bangkrut, mereka akan  menyia-nyiakan kita (naudzubiilah).


Bagaimana pendapat teman-teman soal ini? ada yang punya pengalaman atau menambahkan, silakan lanjutkan ya.., siap menerima wejangan hehehehe..

#Selfreminder







Anak Remaja Bunda Bersifat Tertutup, Mungkin 6 Kesalahan Ini Yang Telah Bunda Lakukan.



www.novanovili.com - [ Parenting] Anak merupakan bagian dari tubuh kita, darah daging kita, siapa sih yang tidak bahagia ketika anak memiliki hubungan yang dekat, akrab dan hangat  dengan anak-anak.  Tapi banyak juga bunda yang resah ketika mendapati anak yang begitu pendiam, kurang terbuka. Padahal jujur saja terkadang begitu ingin tahu apa yang sedang dirasakan oleh anak, masalah apa saja  yang sedang dihadapinya, tapi anak jarang sekali bercerita, bahkan jika ditanya sekalipun dijawab satu-satu atau tak sesuai yang kita harapkan.

Banyak anak remaja yang begitu terbuka , serta percaya kepada  teman -temannya dibanding orang tuanya. Sungguh ini sangat mengkhawatirkan terlebih dizaman sekarang banyak prilaku-prilaku anak yang menyimpang tanpa sepengetahuan orang tuanya. Orang tua wajib tahu, anak pergi kemana dengan siapa, ada rencana apa minggu ini. Banyak orang tua yang kecolongan  dengan prilaku anak.  Di rumah terlihat pendiam dan baik  gak neko-neko tapi tiba-tiba ada laporan dari sekolah bahwa anak suka membolos, merokok dll.

Tertutupnya sikap anak bisa jadi karena karakternya pendiam dan introvert memang sudah bawaannya seperti itu. Tapi kita sebagai orang tua pasti paham  anak yang pendiam yang  sudah bawaan  kecil, tapi walupun begitu biasanya mereka tetap terbuka dengan orang terdekatnya seperti ayah ibu nya atau sodara kandung yang lain.

Lalu bagaimana jika ternyata anak atau remaja yang sebenarnya memiliki sifat ceria, extrovert tapi bersikap tertutup dengan  orang tua sendiri?. 

Berikut beberapa alasan yang memungkinkan  anak bersikap tidak  terbuka kepada ortuanya :

1). Jarang mengajak anak berbicara.   Ntah apa alasannya terkadang ada orang tua yang telalu pendiam dan jarang bicara pada anak, mungkin terlalu sibuk atau merasa semua baik-baik saja  . Mungkin melihat anak berkelakuan gak macam-macam, cuma dirumah, atau asyik main sendiri,  lalu berpikiran  “ah..dia baik-baik saja kok, jadi tidak perlu tanya macam-macam”. Tapi apakah bunda yakin bahwa anak bunda baik-baik saja? kita hanya melihat tampilan luar saja loh, dihati dan pikiran  siapa tahu. Bukankah pernah ada kasus anak bunuh diri, lalu orang tua tidak tahu alasannya?, ada juga anak yang tiba-tiba melarikan diri dari rumah karena merasa tidak diperhatikan. Mengajak anak  berbicara bisa membuat mereka bersikap terbuka, merasa ada teman untuk bercerita, merasa ada orang yang bisa dipercaya untuk menyimpan “rahasianya”.  Kita bisa memulainya sedini mungkin, sejak mereka pandai berbicara karena jika menyadarinya ketika remaja agak sulit untuk “mengorek-ngorek” apa yang mereka pikirkan.

Untuk kebaikan tak ada kata terlambat, mungkin awalnya mereka jengah dengan keberadaan kita yang “kepo”, tapi yakinkanlah bahwa dia merasa nyaman dengan keberadaan kita. Anak tak hanya butuh uang tapi juga kasih sayang perhatian dan sentuhan.

Bisa juga bunda memberi pancingan kepada mereka. Berceritalah bunda lebih dahulu, curhat-curhat kecil, atau minta pendapat mereka. Dengan begitu mereka merasa dibutuhkan, dan merasa tak ada jarak dan tentunya mereka juga mau bicara dan bercerita tentang apa yang mereka rasa dan alami.

Baca juga : Ketika anak tumbuh sebagai penentang

2). Malas mendengar curhat anak. Harusnya bersyukur ketika anak mau bercerita keadaan mereka, ntah tentang sekolah, teman, bahkan sosok yang dia taksir, atu ada cowok yang naksir, dll. Walau kita tidak setuju dengan apa yang terjadi, tetaplah jadi pendengar yang baik. Jika ada hal-hal yang mungkin “menyimpang” minimal kita mengetahuinya dan pelan-pelan kita beri masukan, atau diskusi bersama beri alasan-alasan yang tepat. Karena jika kita langsung bertindak , bisa saja mereka jadi tidak mau curhat dengan kita karena sudah ketakutan duluan.


3). Memotong pembicaraan dan Prasangka Negatif. Awalnya mungkin anak ingin bercerita terbuka, tapi karena emosi atau”sok tau” kita malah memotong pembicaraan . Sikap kita ini tentu saja bikin mereka malas untuk terbuka dan bercerita  detail. Misalnya anak pulang sekolah  kesorean:

 “ Bun, tadi aku pergi ke rumah Nia..”
“Oh..jadi kamu pulang sekolah langsung kerumah Nia, rumahnya kan jauh..sendirian pula kalau kenapa-napa gimana ? besok-besok kalau mau pergi kesana telpon atau sms bunda dulu ya..”
“ Bun..Nia itu sakit hampir seminggu, jadi aku pergi sama teman sekelas sama wali kelas juga kesana, tadi udah  sms bunda, tapi gak ada jawaban, yaudah aku pergi aja, kan bukan maksud main-main”
“…….oh iya , hp bunda mati barusan dicharger”

Sok tau banget kita ya bun?  Anak jadi suka males ngomong ,ya gini deh? belum apa-apa sudah disangka negatif.  Jika sudah begini tak hanya membuat sikap tertutup pada kita  tapi bisa membuatnya tidak jujur.

4). Apa-apa dilarang dan sering marah. Sebagai orang tua kita memang harus protektif terhadap anak tapi kadang suka lebay berujung posesif. Jika ingin melarang anak berkegiatan mungkin bisa mengajaknya berdiskusi, dan memberi gambaran plus minus jika anak mengikutinya, diharapkan anak bisa memahaminya dan memilih alternatif kegiatan lain. Bagaimanapun anak butuh bergaul dan tentu untuk pengembangan diri mereka  juga.

Baca juga : Orang tua cerewet, penting

5). Bersifat otoriter dan tak ingin mendengar pendapat Anak. Sifat orang tua yang keras dan otoriter kadang membuat anak malas bicara. Toh percuma saja, diberi pendapat atau tidak, tidak akan diterima. Ujung-ujungnya anak cuma manggut dan setuju didepan ayah bunda saja, tapi  dibelakang ia membangkang merasa bebas

6). Membuka rahasia anak. Setiap anak punya keunikan tersendiri. Ada tipe yang pemalu dan sensitif. Sesuatu yang kita anggap biasa justru dianggapnya penting dan rahasia . Misalnya dia menceritakan tentang sesuatu dan menginginkan kita merahasiakannya dari siapapun.  Tapi kita menyepelekan pesan itu tiba-tiba kita nyeletuk membeberkannya didepan saudaranya yang lain lalu tertawa. Mungkin kita anggap itu biasa, tapi bagi yang sensitif, ini justru sebuah pukulan baginya. Besok-besoknya anak jadi malas bercerita.

Anak bersifat tertutup memiliki berbagai alasan, kadang mereka malas ribut karena kita yang menanggapi masalah dengan terlalu heboh dan ekspresif. Seperti telah dijelaskan bahwa anak memiliki keunikan tersendiri ,ada tipe yang tidak kita tanya pun mereka tetap berbicara, ada tipe yang tertutup dimana kita sebagai orang tua harus memiliki strategi sendiri menghadapinya. 

Yuk..bun kita jalin kedekatan dengan anak dari sekarang, terutama bunda-bunda yang anak-anaknya masih balita, masih gampang dibentuk, bener gak sih…?. #SelfReminder




6*J-Theme